Tampilkan postingan dengan label kependudukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kependudukan. Tampilkan semua postingan

14 Juli 2010

Sensus Penduduk 2010, 240 Jiwa Masuk Kategori Suku Terasing

* Sensus Berjalan Lancar

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Sebanyak 240 jiwa warga di Kecamatan Wewaria yang terdiri atas tiga kampung dimasukan dalam kategori suku terasing dalam pelaksanaan sensus penduduk 2010. masuknya 249 jiwa warga ini dalam kategori suku terasing karena mereka menolak didata sebagai warga Desa Aelipo.


Hal itu dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ende, Agustinus Liat Pehan di ruangkerjanya, Jumad (4/6). Menurutnya, semula warga di tiga kampung ini menolak didata. Namun setelah dilakukan pendekatan beberapa kali akhirnya mereka bersedia untuk didata dan amsuk dalam kategori suku terasing.


Dikatakan, kendala yang dialami dalam proses pendataan hanya di tiga kampung di Kecamatan Wewaria ini saja. Sedangkan di wilayah lain di Kabupaten Ende tidak ada kendala yang dihadapi oleh petugas sensus di lapangan sejak awal hingga akhir pelaksanaan sensus.


Setelah selesai pelaksanaan sensus, lanjut Liat pehan, saat ini petugas sedang melakukan penelitian data hasil sensus. Menurutnya, pada pelaksanaan sensus dari tanggal 1-7 Mei, datanya sudah diolah. Data sensus awal ini hanya berupa data kepala keluarga, jenis kelamin dan jumlah tanggungan. Data ini akan menjadi bahan pidato presiden pada upacara hari ulang tahun kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang.


Sedangkan pendataan yang dilakukan petugas dari tanggal 8-31 Mei merupakan data yang setelah dilakukan penelitian di tingkat kabupaten akan diteruskan ke provinsi. Proses pengolahan datanya akan dilakukan di tingkat provinsi. Karena itu, data-data yang dinput oleh petugas di lapangan harus benar-benar diperhatikan.


“Kalau ada kesalahan langsung kita perbaiki,” katanya. Jika ditemukan adanya data yang janggal petugas pendatanya langsung dipanggil untuk melakukan klarifikasi.


Diakui, kebanyakan data-data yang masih kurang berkesinambungan adalah data menyangkut umur responden. Terkadang, lanjutnya, data usia anak dengan usia bapak hanya berjarak delapan tahun. Data seperti ini tentunya janggal dan perlu diperbaiki. Kejanggalan lainnya menyangkut umur yaitu jarak umur antara kakak dan adik yang hanya selisih bulan. “Kan tidak mungkin kalau umur kakak dan adik hanya beda satu dua bulan. Paling kurang beda satu tahun itu baru wajar.”


Data-data yang sudah selesai diperiksa langusng dikirim ke provinsi. Hanya saja, akunya, untuk Kabupaten Ende belum ada data yuang dikirim ke provinsi. “Mungkin dalam minggu depan kita sudah bisa kirim satu dua kecamatan yang datanya sudah selesai kita periksa,” kata Liat Pehan.


Dia berharap paling lambat 15 Juni nanti seluruh data hasil sensus penduduk 2010 di Kabupaten Ende sudah dikirim seluruhnya ke provinsi.


Pada masa sensus yang dilakukan di Ende, lanjutnya, ada kebanggaan tersendiri. Di mana ada sejumlah warga yang belum didatangi petugas sensus menelepon dan menyampaikan bahwa mereka belum didata. Bahkan, tidak saja menelepon, ada warga yang belum disensus juga mendatangi kantor BPS menyampaikan bahwa mereka belum disensus.


Kepada warga yang belum disensus disampaikan bahwa petugas akan kembali mendatangi mereka untuk disensus. Disampaikan pula jika sampai akhir waktu pelaksanaan sensus belum juga disensus maka mereka bisa kembali menghubungu kantoir BPS.

22 April 2010

Sukseskan Pelaksanaan Sensuns, BPS Latih Petugas Pencacahan

* Rekrut 980 Petugas Pencacah

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Dalam upaya Badan Pusat Statistik mensukseskan pelaksanaan sensus penduduk 2010, BPS melakukan pelatihan kepada koordinator tim dan petugas pencacahan. Pelatihan digelar sejak 6-21 April mengambil lokasi di lima hotel. Pelatihan dilakukan dalam lima gelombang untuk 40 kelas dan dalam sati gelombang delapan kelas.


Hal itu dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Ende, Agustinus Liat Pehan kepada Flores Pos di ruang kerjanya, Rabu (7/4). Liat Pehan mengatakan, untuk mendukung pelaksanaan sensus penduduk 2010 ini, BPS telah merekrut 980 petugas pencacah. Para petugas ini direkrut dari desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Ende. Setelah direkrut, para petugas dan koordinator tim diberikan pelatihan. Para petugas pencacah ini kemudian dikembalikan untuk bertugas di desa/kelurahan asal masing-masing.


Dijelaskan, dalam pelaksanaan sensus nanti, kerjanya dalam bentuk tim. Setiap desa/kelurahan akan ditempatkan 3-5 petugas dilihat dari kepadatan penduduk atau blog sensus. Jika ada daerah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang rendah maka hanya akan ditempatkan tiga orang petugas. Namun bagi daerah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi maka akan ditempatkan 4-5 petugas. Langkah itu, kata Liat Pehan dilakukan demi pemerataan beban kerja mengingat para petugas menerima honor yang sama yakni sebesar Rp2,5 juta per bulan ditambah biaya transportasi.


Guna mendukung suksesnya pelaksanaan sensus, lanjut dia, BPS juga telah melakukan sosialisasi. Sosialisasi dimaksud telah dilakukan di 19 kecamatan dan tersisa satu kecamatan yakni Kecamatan Kelimutu. ”Kita tetap upayakan agar dalam bulan April ini bisa gelar sosialisasi di sana,” kata Liat Pehan.


Dikatakan, pelaksanaan sensus penduduk akan dimulai pada 1-31 Mei 2010. Dia berharap, dengan batas waktu satu bulan yang diberikan untuk pelaksanaan sensus pelaksanaannya dapat berhasil dan bisa selesai tepat pada waktu. Untuk itu dia megnharapkan peran aktif masyarakat dalam membantu suksesnya pelaksanaan sensu penduduk kali ini. Masyarakat juga diminta memberikan informasi dan data yang akurat kepada petugas mengingat dalam kegiatan ini hanya sekali dilakukan pendataan.


Sementara bagi warga yang belum sempat didata, diaharapkan proaktif melaporkan kepada ketua RT setempat agar dapat didata oleh petugas. ”Buka pintulah bagi petugas kami,” katanya. Dalam pendataan ini, BPS juga melibatkan para ketua RT di setiap wilayah. Peran para ketua RT adalah membantu menunjukan batas RT dibawah penguasaan mereka dan membantu mengantar petugas ke setiap rumah yang hendak disensus karena para ketua RT lebih mengenal warga di RT mereka masing-masing.




21 Maret 2010

153 Ribu Lebih Wjib KTP di Kabupaten Ende

* Masih 30 Ribu Lebih Belum Miliki KTP

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Hingga akhir Desember 2009, wajib Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang ada di Kabupaten Ende telah mencapai angka 153.037. dari total ini, yang telah mengantongi KTP telah mencapai angka 122.440. tersisa 30.597 warga yang belum memiliki KTP. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende terus melakukan berbagai upaya agar setiap warga wajib KTP dapat mermiliki KTP seperti melakukan sosialisasi dan juga razia kepemilikan KTP.


Hal itu dikatakan Kepala Dians Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende, HM Thamrin kepada Flores Pos di ruang kerjanya, Kamis (25/2). Thamrin mengatakan, dari jumlah warga yang belum memiliki KTP ini sudah banyak juga yang mulai periode desember 2009 sampai Februari 2010 ini mendatangi kantor dinas untuk mengurtus KTP-nya.


Namun untuk melakukan penertiban kepada warga wajib KTP yang belum mengurus, kata Thamrin, bekerja sama dengan pihak kecamatan pihak dinas telah melakukan razia KTP. Razia KTP ini melibatkan aparat kecamatan, kelurahan, Polsek dan Koramil. Uji petik razia KTP dilakukan pada 23 desember 2009 lalu di sejumlah tempat seperti di terminal Ndao, sejumlah hotel, apotik dan di KM 6 arah timur Kota Ende. Dari prosews razia itu, petugas berhasil menjaring 324 warga dengan rincian, 185 tidak membawa KTP, 123 belum memiliki KTP, 12 habis masa berlaku, 10 KTP hilang, dan masing-masig dua warga yang memiliki KTP daerah lain yang belum menggunakan blangko KTP nasional dan KTP daerah lain yang belum diengkapi keterangan pindah.


Kepada warga yang terjaring ini, bagi mereka yang belum memiliki KTP langsung diarahkan untuk mengurusnya demikian juga mereka yang masa berlaku KTP-nya sudah habis dan yang sudah hilang atau rusak. “Ke depan kalau tidak diurus maka akan dikenai denda,” kata Thamrin.


Upaya lain yang dilakukan untuk menyadarkan warga dalam mengurus KTP, kata dia adalah dengan melakukan sosialisasi. Terkait sosialisasi ini, dinas telah melakukannya di 20 kecamatan dan sejumlah sekolah. Ke depan, sosialisasi serupa akan terus dilakukan juga dengan melibatkan media massa baik cetak dan elektronik yang menurutnya lebih efektif.


Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Martinus Satban mengatakan, dinas juga tengah menjalankan program Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Program ini penjabarannya dengan program KTP elektronik 2012. Untuk mendukung program ini, telah dibentuk Tim SIAK yang melibatkan semua pihak mulai dari dinas, aparat kecamatan dan desa. Kegiatan yang dilakukan adalah penyiapan data base di kelurahan dan adesa. Langkah ini dilakukan agar hingga tahun 2011 semua kepala keluarga di Kabupaten Ende sudah memiliki kartu keluarga sebagai dokumen dasar data base.


Selain menjalankan program SIAK, lanjut Satban, dinas juga tengah menggiatkan program nasional rencana strategis pencatatan kelahiran 2011 di mana semua anak Indonesia sampai tahun 2011 sudah tercatat kelahirannya. Upaya untuk merncapai tujuan ini maka mulai tahun 2010 ini dinas membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pencatatan Kelahiran. Pokja ini melibatkan dinas, desa, kelurahan dan petugas yang menagani kelahiran seperti rumah sakit, rumah bersalin, bidamn dam dukun beranak terlatih. Untuk mensuykseskan prograsm ini, kata Satban, mulai 2010-2011 akan dilaksanakan operasi pencatatan kelahiran di sekolah-sekolah mulai dari PAUD, TKK dan SD. Dengan demikian, diperkirakan mulai tahun 2012 dinas hanya melakukan tugas pencatatan terhadap kelahiran baru mengingat semua anak telah tercatat kelahirannya.


Pencatatan kelahiran ini, lanjut Satban merupakan prosedur untuk mendapatkan akte kelahiran bagi anak dalam rangka penegakan hukum dan peraturan perlindungan anak agar setiap anak tercatat kelahirannya dan dapat diterbitkan akte kelahiran.




17 Februari 2010

Belasan Pasang Remaja Terjaring dalam Operasi Pekat

* Di Kecamatan Ende Selatan

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Kecamatan Ende Selatan bekerja sama dengan Kecamatan Ende Utara, Koramil Kota dan Polsek Ende menggelar operasi terkait masalah penyakit masyarakat (pekat). Langkah penertiban ini demi mengurangi terjadinya penyakit masyarakat yang marak terjadi akhir-akhir ini. Dalam setiap operasi pekat, tim berhasil menjaring sejumlah pasangan yang berpacaran di tempat-tempat gelap di lokasi samping Cafe Mahakam. Setelah mendata dan memberikan pembinaan para remaja yang terjaring dikembalikan kepada orang tua masing-masing.


Hal itu dikatakan Camat Ende Utara, Ismail Petorsila kepada Flores Pos di ruang kerjanya, Senin (15/2). Petorsila mengatakan, pelaksanaan kegiatan atau operasi penyakit masyarakat tersebut dilakukan dalam rangka menjawab program pemberantasan penyakit masyarakat (pekat). Dalam pelaksanaan operasi pekat ini, kata Petrosila, ditertibkan pula remaja yang berpacaran di tempat-tempat gelap di pinggir pantai dekat Cave Mahakam.

Pelaksanaan operasi pekat tersebut, kata Petrosila bekerja sama dengan Kecamatan Ende Utara, Koramil Kota Ende dan Polsek Ende. Menurutnya, lokasi yang menjadi tempat para remaja berpacaran itu merupakan wilayah Kecamatan Ende Utara namun pihaknya merasa perlu melakukan operasi pekat di daerah tersebut. Hal itu karena selama ini sudah banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi tersebut. Bahkan, masyarakat sering menelepon ketika melintas di daerah tersebut dan melihat ada remaja yang berpacaran di tempat gelap.


“Kejadian seperti ini buat kita malu. Tapi mereka sendiri tidak malu orang lihat mereka pacaran di tempat-tempat seperti itu,” kata Petorsila. Bahkan, katanya, pada saat dijaring, dari kejauhan hanya terlihat cahaya handphone yang sedang mereka tonton. Di dalam memori handphone tersimpan gambar-gambar dan film porno.


Dari beberapa kali operasi yang dilakukan dalam minggu ini, lanjutnya, tim berhasil menjaring belasan remaja yang sedang berpacaran. Setelah diambil data nama, alamat, pekerjaan masing-masing, para remaja diberikan pembinaan. Selanjutnya dikembalikan kepada orang tua dan kepada orang tua diminta untuk mengawasi anak mereka masing-masing. Kebanyakan para remaja yang dijaring dalam operasi pekat masih sekolah, ada juga yang sudah tamat dan putus sekolah.


Kepada para remaja yang dijaring, kata Petrosila, diminta untuk menjaga sopan santun dan tidak lagi berpacaran ditempat gelap seperti itu. Kepada mereka juga diingatkan untuk tidak mengulangi kembali perbuatan tersebut. Jika dikemudian hari mereka masih terjaring, hal ini menunjukan orang tua tidak mengontrol anaknya sehingga mereka akan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk dibina. Kepada segenap masyarakat dia juga berharap untuk sama-sama menjaga situasi Kota Ende agar tetap aman, nyaman dan tertib karena untuk menciptakan kondisi seperti itu menjadi tanggung jawab semua pihak.


Ke depan, kata Petorsila, operasi pekat akan terus dilaksanakan apalagi telah terbentuk Forum Pemberantasan Penyakit Masyarakat sehingga pelaksanaan secara terpadu. Kegiatan ini sudah disampaikan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan orang tua dan langkah tersebut telah mendapat dukungan dari semua pihak.

Haji Mohamad Taher, anggota DPRD Ende dari daerah pemilihan Ende satu kepada Flores Pos di gedung DPRD Ende, Jalan El tari, Senin mengatakan mendukung langkah yang dilakukan pemerintah Kecamatan Ende Selatan dalam menggelar operasi pekat. Bahkan Haji Taher mendukung agar kegiatan serupa dilakukan secara rutin agar segala penyakit sosial yang meresahkan masyarakat berangsur-angsur dapat dihilangkan.


Namun, kata Haji Taher, agar kebiasaan buruk seperti pacara di tempat gelap tidak lagi terjadi, pemerintah juga perlu memikirkan langkah-langkah pemecahan. Dia menyarankan agar perlu dipasang lampu pada lokasi-lokasi yang sering dijadikan tempat pacaran para remaja. Pemasangan lampu tersebut, kata dia tetap menjaga nilai-nilai estetika dan keindahan kota. Dia yakin, jika tempat-tempat yang selama ini dijadikan tempat pacaran dipasang lampu jelas kejadian seperti itu akan berkurang dengan sendirinya.


Selain itu, Haji Taher juga meminta pemerintah untuk memperhatikan semua taman kota yang ada saat ini. Taman kota yang ada juga disinyalir menjadi tempat pacaran karena rimbun ditumbuhi pepohonan dan tidak ada penerangan. Pada lokasi-lokasi taman kota tersebut seperti di taman Rendo perlu dipasang lampu dan ditata dengan baik. “Itu perlu diperhatikan karena kebersihand an keindahan adalah bagian dari iman. Agama manapun mengajarkan hal yang demikian ini,” kata Haji Taher.


Haji Taher juga mengatakan, di lokasi taman kota yang ada saat ini perlu pula ditempatkan petugas jaga yang diangkat menjadi tenaga honorer. Pemerintah dapat pula membangun pos jaga yang dilengkapi fasilitas pendukung agar petugas jaga bisa tinggal di tempat tersebut. Kepada petugas jaga dapat diberikan kewenangan untuk bertindak jika mendapati para remaja yang berpacaran di lokasi tersebut. “Tapi tindakan yang diambil tetap ada batasannya. Jangan sampai berlebihan dan akhirnya main hakim sendiri.”