Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

22 Juli 2011

Kantor Pertamanan Gelar Lokakarya Penyususunan Master Plan Pengelolaan Sampah

· Bupati Don Wangge, Dari Lokakarya Bisa Hasilkan Master Plan

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Kantor pertamanan dan Kebersihan Kabupaten Ende mengelar lokakarya penyusunan master plan pengelolaan sampah. Dari lokakarya ini diharapkan mampu menghasilkan master plan pengelolaan sampah.

Lokakarya dibuka Bupati Ende, Don Bosco M Wangge di aula PSE Ende, Senin (11/7). Bupati Don Wangge pada kesempatan itu mengatakan, kebanyakan orang mengidentikan sampah sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak berharga. Padahal, sampah sangat bermanfaat dan punya nilai ekonomi yang sangat tinggi jika dikelola secara baik.

Kota Ende sebagai pusat pertumbuhan, katanya, jelas setiap saat selalu mengalami penambahan jumlah penduduk. Penambahan jumlah penduduk ini jelas sangat berpengaruh terhadap dampak kuantitas dan kualitas limbah sampah yang terus bertambah. Mencegah timbulnya berbagai permasalahan terhadap kehidupan manusia maupun gangguan pada lingkungan akibat limbah sampah maka diperlukan upaya-upaya pengelolaan sampah yang lebih efektif dan efisien.

Pengelolaan sampah terutama sampah perkotaan masih menemui berbagai kendala sosial budaya, ekonomi maupun penerapan teknologi. Dari aspek sosial budaya, masih dijumpai perilaku masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Kondisi ini menurutnya juga terjadi di Ende. Masyarakat masih membuang sampah di sembarang tempat seperti di saluran air, di jalan dan di sungai.

Di Indonesia, lanjutnya, data dari Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan 15-20 persen limbah sampah dibuang secara baik dan tepat sementara sisanya dibuang ke sungai dan menimbulkan masalah banjir. Diperkirakan, 85 persen kota kecil secara resmi membuang limbahnya ke tempat terbuka. “Situasai yang sama saya yakin juga masih terjadi di Ende. Kalau musim hujan, di perempatan jalan Melati, bandara dan jalan bawah menjadi tempat pembuangan sampah. Sampah menumpuk di badan-badan jalan,” katanya.

Dari aspek ekonomi dan penerapan teknologi, kata Bupati Don Wangge, pengelolaan sampah saat ini belum mempertimbangkan asas manfaat secara ekonomi. Pengelolaan sampah dilakukan secara single method yakni wadah-kumpul-angkut-buang. Sampah sepenuhnya dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengakibatkan lahan TPA terbatas dan sampah yang dibuang bertumpuk dan menimbulkan pencemaran lingkungan dan mengganggu kesehatan mengingat sistem yang digunakan masih sistem pembuangan terbuka (open dumping).

Tantangan ke depan adalah bagaimana menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan efisien berdasarkan regulasi dan mampu mengelola sampah dengan tetap berwawasan lingkungan serta menerapkan teknologi. Pengelolaan sampah tidak lagi menimbulkan bau dan poenyakit namun bisa menjadi peluang usaha industri yang dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Karena itu dia berharap, dari lokakarya yang dilaksanakan ini, nantinya dapat bermuara pada menghasilkan master plan pengelolaan sampah di Kabupaten Ende. Selanjutnya dapat dipresentasikan di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal meningat ada alokasi dana untuk pengelolaan sampah.

Kepala Seksi Kebersihan, Abdullah Ahmad selaku ketua panitia mengatakan, sesuai data jumlah penduduk tahun 2010 khusus untuk di Kota Ende mencapai 79.882 jiwa. Jika setiap orang menghasilkan 0,3 kg sampah dalam sehari maka produksi sampah perkotaan diperkirakan mencapai 42 ton atau 278 meter kubik per hari. Itu berarti dapat mencapai 8.627 ton dalam setahun. Sampah yang dikelola selama tahun 2010 baru mencapai 14.043 meter kubik atau baru 24 persen. Cakupan ini masih jauh dari yang diharapkan dalam standar pelayanan minimal yaitu 80 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh aspek teknis operasional sistem pengelolaan sampah, aspek kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek hukum dan aspek peran serta masyarakat.

Selama ini, pengelolaan sampah di Ende menggunakan pola komunal langsung di mana sampah dari sumber sampah dikumpulkan di tempat pembuangan sementara (TPS) dan diangkut ke TPA. TPS yang dimiliki sebanyak 15 terbesar di 15 lokasi di kecamatan dalam kota. Kapasitas masing-masing empat meter kubik dan sampahnya belum terpilah dan TP yang dikelola masih menggunakan sistem open dumping.

Tantangan utama yang dihadapi adalah perkembangan penduduk yang berdampak pada bertambahnya volume sampah, beragam jenis dan karakteristik sampah dengan lahan yang terbatas. Pengelolaan sampah belum sesuai metode dan teknik pengelolaan sampah berwawasan lingkungan dan sistem pembuangan di TPA Rate menggunakan open dumping menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Belum adanya pemilahan sampah dan daur ulang. Tidak tersedia tempat sampah terpilah di fasilitas umum.

Dikatakan, dalam lokakarya ini menghadirkan pembicara Peter Howson, konsultan dari VSO juga narasumber lokal yakni Dominikus M Mere, Kepala Bappeda, Yos Mario Lanama, Kadis PU dan Aliya Dewi, Kepala kantor Pertamanan dan Kebersihan.

2012-2015, Pemkab Ende Konsen Berantas Filarisasi

· Prevalensi Mikrofilariasis Capai 16 Persen Lebih

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Dinas Kesehatan Kabupaten Ende melaksanakan kegiatan advokasi dan sosialisasi filarissi (penyait kaki gajah_ kegiat) tingkat kabupaten. Kegiatan ini merupakan geakan moral yang diarahkan melalui kiatan pendaran melibatkn seluruh masyarakat dan pemberian obat missal filarisasi kepada penderita di daerah endemis guna menurunka prevealensi filariasis atau microfilarisasi rate (MFR) secara bertahap selama lima tahun berturut-turut. Mulai tahun 2012-2015, pemerinah Kabupaten Ende akan konse melakukan upaya menurunkan angka prevalensi filarisasi hingga di bawa satu persen. Langkah ini dilakukan guna mendukung target eliminasi filarisasi 2020.

Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten Ende, Yoseph Ansar Rera pada acara advokasi dan sosialisasi filarisasi tingkat Kabupaten Ende di aula Hotel Grend Wisata, Jumad (8/7). Ansar Rera mewakili bupati dalam kesempatan itu mengatakan, 80 persen wilayah Kabupaten Ende masih tergolong sebagai wilayah endemis filaria. Karena itu, Ende secara nasional merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang masih berisiko terhadap penyakit filarial dan malaria.

Kondisi ini, lanjutnya disebabka selain karena merupakan daerah tropis, juga disebabkan karena perilaku masyarakatpenderita filarial bersama keluarga yang cenderung tidak melaporkan atau malau memeriksakan penyakit yang diderita ke Puskesmas. Wilayah endemis filarial umumnya di desa-desa terpencil yang masih sulit sarana transportasi sehingga masih sulit dalam pelayanan.

Penyebab terjadinya filarial, kata Ansar Rera disebabkan karena masalah lingkungan yang kumuh, perilaku manusia, pelayanan kesehatan yang belum, optimal dan akibat penyakit keturunan. Factor lingkungan yang kotor dan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan factor dominan yang mendorong masih tingginya penderita filarial di Ende.

Sejak tahun 2004, di Ende belum pernah melaksanakan pengobaan missal. Padahal di sisi lain, Ende memiliki data dasar dan uji petik serta sentinel pilihan. Program gerakan pemberantasan filariasis perlu dilaksanakan dengan konsentrasi pemutusan mata rantai penularan penyakit dan sumbernya. Perlu dilakukan kegiatan berbasis masyarakat seperti penyuluhan kesehatan guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang bahaya filarial agar masyarakat mulai memiliki pola perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu pemutusan mata rantai penularan filarial juga perlu dilakukan serta mencegah dan membatasi kecacatan akibat filarial. Memperkua surveillance, pengendalian vector terpadu melalui kegiatan penyemprotan dan tidur menggunakan kelambu.

Sekretaris Dinas Kesehatann, Yohanis Nislaka mengatakan, filarisasi atau penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular menahun yang masih menjadi masalah. Hasil survey darah tahun 200 sampai April 2011, beberapa wilayah di Kabupaten Ende sudah dinyatakan bebas filariasis. Kondisi ini melebihi batas prevalensi mikrofilariasis sebesar 16 persen dan melebihi batas toleransi yang diharapkan yakni lebih kecil dari satu persen.

Dalam eliminasi filariasis yang diutamakan adalah menghilangkan parasit filariasis melalui pemberian obat missal pencegahan filariasis. Untuk kegiatan ini, Kabupaten Ende mendapat dukungan dari USAID berupa dana operasional POMP filariasis. Bantuan ini, kata dia merupakan stimulus dan hanya untuk tahun 2011. “Untuk tahun berikutnya diharapkan komitmen dari pemerintah daerah untuk menyediakan dana operasional POMP filariasis sehingga dapat dilaksanakan selama lima tahun berturut-turut,” kata Yohanis Nislaka.

03 Juli 2011

Ende Dapat 13 Dokter PTT

· * Tahun ini Kirim Dua Dokter Ambil Spesialisasi

Oleh Hieronimus Batokilia

Ende, Flores Pos

Tahun 2011 ini, Kabupaten Ende mendapatkan alokasi 13 orang dokter pegawai tidak tetap (PTT). Ke-13 dokter PTT ini ditempatkan di sejumlah Puskesmas yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Hal itu dikatakan Bupati Ende, Don Bosco M Wangge di ruang kerjanya, Jumad (24/6). Bupati Don Wangge mengatakan, dengan mendapatkan tambahan 13 dokter PTT ini maka saat ini rata-rata di setiap Puskesmas yang ada di Kabupaten Ende dilayani oleh dua orang dokter.

Don wangge mengatakan, keberadaan dokter PTT ini dikontrak selama masa kerja dua tahun. Mereka ditempatkan di Puskesmas Kelimutu, Wolowaru, Lio Timur, Wolojita, Kota Baru dan Ende Selatan.

Ende, katanya masih sangat membutuhkan tenaga dokter untuk melayani masyarakat. Keberadaan dokter PTT ini diharapkan mampu memberkan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada masyarakat demi menjamin derajat kesehatan masyarakat.

Pemerintah pada tahun 2011 ini, kata Don Wangge mengirim dua orang dokter untuk mengambil program spesialisasi. Dua dokter ini, kata dia sudah menyatakan kesedian mereka untuk tetap mengabdi seumurhidup mereka di Kabupaten Ende.

Untuk program spesialisasi di bidang kedokteran ini, lanjutnya, saat ini pemerintah sudah membangun kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar dan Universitas Indonesia. Sedangkan Universitas Gajahmana sedang dilakukan penjajakan. Dia berharap penjajakan kerjasama itu dapat berhasil sehingga memudahkan para dokter dari Ende mengambil spesialisasinya.

Pemerintah dalam upayatup

msasaat ini, meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kata Don Wangge juga sedang bekerjasama dengan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Dari kerjasama ini, lanjutnya, dilakukan pertukaran petugas medis dari Ende untuk magang di RS Panti Rapih dan petugas medis dari Panti Rapih bertugas di Ende. Dia berharap, dari kerjasama yang telah dibangun ini sedikit tidak mampu meningkatkan standar mutu pelayanan kesehatan di RSUD Ende seperti yang ada di RS Panti Rapih.”Saya inginkan pola kerja di RSUD Ende seperti yang ada di Panti Rapih,” kata Don Wangge.

YASPEM Gelar Dialog Malaria dengan DPRD Ende

· Dalam Sehari 3000 Manusia Meninggal Akibat Malaria

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (YASPEM) yang berkedudukan di Maumere Kabupaten Sikka menggelar dialog terkait penanganan penanggulangan malaria dengan DPRD Ende. Malaria sebagai penyakit berbasis lingkungan yang ditularkan oleh nyamuk anopheles membutuhkan penanganan dan penangulangan serius. Hal itu mengingat malaria dapat menimbulkan penyakit ikutan lainnya yang akhirnya berdapkan pada penurunan tingkat pendapatan masyarakat.

Dialog yang dibuka Ketua DPRD Ende, Marselinus YW Petu itu lalu dilanjutkan oleh Ketua Komisi B DPRD Ende, Heribertus Gani. Hadir dalam dialog ini Direktur YASPEM Maumere, Maria Mediatrix Mali da staf, utusan dari Dinas Kesehatan Ende. Anggota Dewan yang hadir diantaranya Hj Selviah Indradewa, Philipus Kami, Haji Pua Saleh, Efraim B Ngaga, Abdul Kadir Hasan, Eugenia Goreti Lado Lay, Yulius Cesar Nonga, Sudrasma Arifin Nuh.

Maria Mediatrix Mali di hadapan Komisi B danC DPRD Ende di ruang rapat Gabungan Komisi, Senin(20/6) mengatakan, penyakit malaria merupakan penyakit yang disebabkan parasit yang merupakan golongan plasmodium dan ditularkan melalui nyamuk anopheles betina. Parasit jenis ini banyak tersebar di wilayah tropis seperti Amerika, Asia dan Afrika.

Nyamuk jenis ini, kata Trix Mali bertelur dan berkembang baik di genangan-genangan air sehingga malaria sering menyerang masyarakat yang tinggal dekat persawahan, sekitar lokasi lagun, kolam atau got yang airnya tergenang. Terdapat empat tipe plasmodium parasit yang dapat menginfeksi manusia. Namun yang sering ditemukan dalam kasus penyakit malaria adalah plasmodium falciparum dan plasmodium vivax. Tipe lainnya adalah plasmodium ovale dan plasmodium malariae.

Dikatakan, kiat mencegah malaria yakni dengan mengotrol secara rutin vector atau nyamuk dan berupa untuk menghindari gigitan. Upaya menghindari gigitan dapat dilakukan dengan sejumlah cara diantaranya, tidur menggunakan kelambu, menggunakan obat anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk di pekarangan atau di sekiling rumah seperti tanaman lavender, sereh, kemangi, kemangi hutan dan zodiac. Langkah lainnya yakni memasang kawat kasa di jendela dan lubang ventilasi udara. Cara lainnya adalah dengan membangun kandang ternak jauh dari rumah, memakai baju lengan panjang berwarna terang saat keluar rumah di malam hari, membersihkan lingkungan terutama mengalirkan atau menimbun genangan air. Serta menebar ikan pemakan jentik di kolam permanen seperti ikan kepala emas.

Selain langkah tersebut, kata Trix, dapat pula dilakukan dengan 3M yakni mengurs bak air, bak WC, menutup tempat penampung air di rumah tangga dan mengubur, menyingkirkan atau memusnahkan barang dula dekas yang dapat menampung air. Di tempat penampungan air seperti, bak mandi diberikan pestisida yang membunuh larva nyamuk seperti abate. “Ini bias mencegah perkembangbiakan nyamuk selama beberapa minggu. Tapi pemberian abate harus diulang setiap beberapa minggu,” kata Trix Mali.

Malaria, lanjutnya, dapat menyebabkan penderita mengalami anemia. Pada ibu hamil, malaria dapat menyebakan bayi lahir mati atau bayi lahir dengan berat badan rendah bahkan menyebabkan ibu meninggal. Pada usia anak-anak, serangan malaria dapat menimbulkan gejala aneh misalnya menunjuka gerakan atau postur tubuh yang abnormal sebagai akibat tekanan rogngga otak bahkan leih serius lagi dapat menyebabkan kerusakan otak dan juga berdampak pada kematian. Dalam sehari, katanya terdapat 3000 manusia di seluruh dunia yang meninggal akibat menderita malaria.

YASPEM, kata Trix Mali selama ini telah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sikka secara komprehensif sejak tahun 1997 hingga 2009. Kerjasama yang dilakukan meliputi pemeriksaan darah missal diikuti pengobatan bagi warga yang positif mengidap malaria. Selain itu melakukan pemberantasan jentik nyamuk melalui penyemprotan BTI di genagan air besar dan pelepasan ikan kepala timah di beberapa kolam permanen. Juga program kelambunisasi dengan pembagian kelambu anti nyamuk di daerah dengan angka tinggi. Serta melakukan sosialisasi secara terus-menerus dpublikasi di media massa.

Ende, kata dia juga merupakan daerah endemic malaria terutama di sejumlah wilayah di Lio Utara yang memiliki banyak lagun (tempat pertemuan air tawar dan air laut yang tergenang). Penanganan penanggulangan malaria perlu melibatkan semua unsure dan saat ini dilakukan upaya menggiatkan program RT bebas jentik nyamuk dan DBD melalui program Dasa Wisma. Pemerintah juga didorong untuk membuat peraturan daerah tentang malaria. Perda malaria yang dibuat pemerintah provinsi nampaknya terlalu berat saksi yang ditetapkan dimana denda Rp250 juta dan kurungan enam bulan bagi warga yang di rumahnya terdapat jentik nyamuk.

Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan pada Dinas Kesehatan Ende, M Dorkas Banda mengatakan, upaya pemberantasan sudah dilakukan oleh dinas melalui pengobatan missal. Namun, kata dia mengingat keterbatasan dana maka hanya difokuskan pada tempat tertentu saja serta melakukan screening pada ibu hamil.

Dikatakan, Kabupaten Ende masih tinggi malaria dan diantara 1000 penduduk terdapat 286 penderita malaria. Hanya saja dalam penanganan dana yang dialokasikan untuk penanganan malaria hanya sebesar Rp14 juta. Bidang PML sendiri yang menangani 23 penyakit berbasis lingkungan hanya dialokasikan Rp85 juta setahun.

Heribertus Gani yang memimpin dialog tersebut mengatakan, sesuai penjelasan, penanganan malaria sangat penting dilakukan dan yang terpenting adalah membangun kesadaran masyarakat melalui program RT bebas jentik nyamuk dan DBD. Terkait terbatasnya dana, dia berharap dapat dipikirkan ke depan meningat Dinas Kesehatan merupakan dinas dengan alokasi cukup besar hanya belum dapat mendukung program sehingga intervensi dana untuk malaria masih terlampau kecil.

Dia berharap YASPEM dapat membangun kerjasama sinergis dengan Dinas Kesehatan da unit-unit teknis di Puskesmas agar tidak terjadi duplikasi pelayanan. Dari presentasi yang dibuat tentunya diarapkan ada output yang bisa membantu mengoptimalkan pelayanan program penanggulangan malaria secara terpadu.

Terkait perda malaria, kata Gani, jika berkembang dan bersifat delegatif atau ada peraturan yang lebih tinggi tingkatannya maka lembaga Dewan akan mendalaminya terlebih dahulu. Jika nantinya dipandang perlu maka dapat disikapi sebagai langkah konkrit pemerintah dan lembaga Dewan dalam menyikapi malaria dan DBD yang menjadi masalah menahun tersebut.

24 Mei 2011

Hinga Tahun 2010, Terdapat 215 Orang Meninggal Akibat Rabies

· * Polulasi Anjing di Mencapai 233.739

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Sejak tahun 1997 saat rabies mulai mewabah di wilayah Flores dan Lembata hingga tahun 2010, tercatat sebanyak 215 warga Flores dan Lembata meninggal dunia akibat rabies. Sedangkan kasus gigitan yang terjadi dari tahun 1997 hingga tahun 2010 sebanyak 28.302 kasus gigitan.

Hal itu dikatakan Maria Geong, Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan Provinsi NTT saat memaparkan materinya dalam rapat koordinasi rabies di aula Hotel Grand Wisata, Rabu (27/4).

Maria Geong menjelaskan, saat ini populasi hewan penyebar rabies terutama anjing yang ada di wilayah Flores dan Lembata hingga tahun 2010 mencapai 233.739 ekor. Dari jumlah ini, baru sebanyak 167.500 ekor yang telah divaksin atau 55,89 persen. Sedangkan yang sudah dieliminasi sebanyak 234 ekor. Tersisa masih sebanyak 102.868. sedangkan untuk kasus gigitan yang terjadi pada tahun 2010 di wilayah Flores dan Lembata mencapai 5.073 dan 28 orang meninggal dunia akibat rabies.

Dikatakan, untuk wilayah Flores dan Lembata, kasus gigitan yang paling banyak terjadi di Kabupaten Sikka yakni sebanyak 1.349 kasus dan meninggal dunia tuju orang. Menyusul Kabupaten Manggarai dengan 881 kasus gigitan dan sepulu orang meninggal dunia akibat rabies. Selanjutnya Selanjutnya Flores Timur berada di posisi ketiga kasus gigitan terbanyak dengan 551 kasus gigitan namun tidak ada korban meninggal dunia. Disusul Kabupaten Ende dengan 550 kasus gigitan juga tanpa ada korban meninggal dunia. Kabupaten Ngada dengan 525 kasus gigitan dan tiga orang meninggal dunia. Sementara Kabupaten Manggarai Timur yang terendah kasus gigitannya namun korban meninggal dunia mencapai rmpat orang.

Masuknya anjing ke wilayah NTT dapat melalui beberapa alternatif sarana transportasi baik kapal feri, kapal rakyat, kapal Pelni maupun dengan bis laut. Syarat pemasukan anjing ke wilayah NTT hanya diperbolehkan dari daerah bebas rabies. Harus mengantongi surat rekomendasi pemasukan dari kabupaten/kota. Memiliki sertifikat kesehatan hewan, surat keterangan identitas status vaksinasi, mengantongi hasil pengujian ELISA dan berada dibawah 0,5 IU. Surat keterangan silsilah dari PERKINdan wajib lapor setelah hewan tiba. Pemilik anjing wajib menandatangani kontrak dengan dokter hewan yang ditunjuk. Anjing berada dalam pengawasan dokter hewan yang ditunjuk selama minimal enam bulan dan anjing harus diikat atau dikandangkan.

Maria Geong menjelaskan, penanggulangan dan tanggap darurat rabies perlu dilakukan agar mengurangi resiko serangan darurat akibat terjadinya penyakit rabies dengan meningkatkan peranserta masyarakat dalam sistim tanggap darurat. Selain itu untuk membangun kapasitas SDM terlatih dan mampu menanggapi situasi darurat serta menyiapkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan. Mengikutsertakan semua komponen masyarakat dalam organisasi tanggap darurat untuk membangun kepedulian. Mendorong partisipasi pengambil kebijakan dalam menanggapi situasi darurat dan kesepakatan pendanaan tanggap darurat.

Dokter Hewean Maria Geong mengatakan, mayoritas wilayah di NTT masih bebas rabies. Akan tetapi selalu berada dalam ancaman penularan. Kesiapsiagaan darurat harus dikembangkan untuk meningkatkan kepedulian pemerintah dan masyarakat untuk mencegah penyebaran rabies. Dia juga menyarankan agar harus dibuat dan diterbitkan peraturan daerah tentang kesiapsiagaan darirat rabies dan pengembangan manajemen tanggap darurat rabies di tingkat provinsi sampai ke desa dan kelurahan.

Dijelaskan, kebijakan kesiapsiagaan darurat rabies harus didukung penyediaan infrastruktur SDM, peralatan, fasilitas teknis, pelatihan dan media informasi. Perlu pula dibangun integrated rabies emergency center untuk mempercepat pelayanan. Terkait pendaaan, lanjutnya, perlu difasilitasi elalui kesepakatan antara pemerintah pusat, daerah dan sumber-sumber lainnya dengan membuat semacam cost sharing agreement.