Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

03 Juni 2011

Tarik Minat Wisatawan, Perlu Kemasan yang Berbeda dari Bali

· * Ketergantungan Tinggi terhadap Bali

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Wilayah NTT umumnya dan Flores khususnya memiliki potensi wisata yang tidak kalah menariknya dengan yang ada di Bali. Untuk bisa menarik semakin banyak wisatwan yang datang ke Flores maka diperlukan kemasan baru yang dibuat lebih berbeda dari kemasan pariwisata yang ditawarkan di Bali.

Patut diakui bahwa selama ini pariwisata Flores dan NTT umumnya masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pariwisata Bali. Wisatawan yang berkunjung ke NTT dan Flores adalah wisatwan yang mengunjungi Bali baru menuju ke Flores dan NTT umumnya.

Hal itu dikatakan Kepala Bidang Perencanaan dan Hukum Kementerian Pariwisata da Kebudayaan, Frans Teguh kepada wartawan di Hotel Grand Wisata, Kamis (26/5). Frans Teguh mengatakan, indikator suksesnya suatu kegiatan pariwisata adalah dilihat dari banyaknya jumlah kunjungan, lama mereka menetap di suatu daerah wisata dan berapa besar uang yang mereka belanjakan. Flores berhasil atau tidak dalam pengelolaan pariwisata harus dilihat dari tiga indikator keberhasilan tersebut.

Potensi pariwisata memang diakui sangat bagus hanya untuk bisa menarik semakin banyak wisatawan yang berkunjung namun perlu dilakukan pembenahan baik dari segi kemasan pariwisata di mana seluruh aset pariwisata yang dimiliki dikemas secara lebih baik dan berbeda. Dalam pembenahan kemasan ini, perlu diperhatikan produk yang akan dijual dan kepada siapa produk pariwisata itu akan dijual. “Ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan bersama seluruh staekholder pariwisata,” kata Frans Teguh.

Dalam mengemas produk pariwisata yang ada, lanjutnya, kelangkaan nilai-nilai dan tradisi yang dimiliki harus tetap dipertahankan keasliannya. Terkadang, ketika mengubah kemasan produk pariwisata yang hendak dijual dan keasliannya dirubah justru akan tidak lagi menjadi menarik dan membuat orang tidak lagi mau menikmatinya. Nilai-nilai ttradisi yang menjadi kekuatan untuk dijual harus tetap dipertahankan karena nilai-nilai tradisi asli ini menjadi kekuatan dan roh pariwisata seperti Bali yang kuat bukan karena kemasan namun karena budayanya yang tetap dipertahankan.

Dalam pengembangan pariwisata, lanjut Teguh, penyiapan sumber daya manusia juga tidak kalah penting untuk menjadi prioritas. Lembaga pendidikan khusus pariwisata perlu dibuka untuk menyiapkan sumber daya bidang pariwisata. Flores perlu siapkan SDM yang handal untuk mampu mengejar ketertinggalan. Pariwisata Flores membutuhkan pemain-pemain lokal yang dididik khusus dalam budaya Flores sehingga memahami benar dunia pariwisata Flores. Banyak orang Flores yang sekolah pariwisata di Bali dan Jogjakarta dan mereka lebih memahami pariwisata Bali dan Jogjakarta ketimbang pariwisata Flores.

Selama ini, kata Teguh, di Flores belum ada satupun diploma yang dibangun khusus untuk menyiapkan SDM pariwisata. Dengan demikian, pariwisata Flores dapat dodorong menjadi lokasi pariwisata andalan. Pemerintah pusat, lanjutnya memberikan dukungan untuk pariwisata NTT dan menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan dan Flores didorong menjadi destinasi masa depan setelah Bali dan Lombok. “pemerintah bersama Swisscontac berupaya memfasilitasi pertemuan dengan staekholder dan masyarakat untuk bangun pariwisata Flores,” kata Teguh.

Ruedi Nuetzi, Proyek Manajer Swisscontact Wisata mengatakan, wisatwan yang datang berkunjung ingin melihat program yang berbeda dari program yang ditawarkan pariwisata Bali. Wisatawan mau mencari tempat baru dan Flores menjadi salah satu pilihan alternatif para wisatawan yang memiliki potensi sangat besar menarik para wisawatan. Dalam upaya pengembangan potensi pariwisata Flores, kata Redi yang diperhatikan tidak saja pada promosi yang gencar terhadap pariwisata namun juga memperbaiki serfis kepada para wisatawan.

Swisscontact bekerjasama dengan pemeritnah daerah berupaya mengemabngkan potensi pariwisata yang dimiliki baik yang sudah tekenal maupun yang ada namun belum dikenal luas kalangan wisatawan. Selain itu juga mendorong petani di desa-desa untuk menyiapkan produksi pertanian yang dapat menjadi suplayer bagi kebutuhan pariwisata.

Kornelis Soi anggota DPRD Provinsi NTT mengatakan, kegagalan dalam pengembangan pariwisata Flores dan NTT umumnya disebabkan karena SDM. SDm menjadi kerihatinan terutama SDM di kalangan PNS. Mereka yang dipercayakan mengikuti bimbingan teknis penanganan pariwisata namun setelah kembali tidak algi ditempatkan di Dinas Pariwisata namun ditempatkan di dinas lain yang tidak ada keterkaitan kerja dengan pariwisata. Aspek politis masih dominan dalam penempatan pegawai. Perlu diperhatikan bahwa yang mengurus pariwisata adalah orang yang mengerti pariwisata dan diingatkan untuk jangan melihat dari sisi politik.

Terkait SDM, kata Soi, di Flores, Lembata dan Alor tidak ada satupun diploma pariwisata. Yang ada hanya SMK pariwisata sebanyak enam. Karena itu, hanya mampu melahirkan SDM pariwisata dengan kemampuan seadanya. Kondisi ril yang terjadi, pekerja pariwisata penampilannya tidak menarik dan sekolahnya pas-pasan. Ada juga yang kuliah di Bali dan mereka hanya mengerti budaya dan pariwisata di tempat belajar.

Selain itu, kurang majunya pariwisata karena infrastruktur penunjang yang tidak mendukung. Kendatipun anggaran terbatas namun harus ada komitmen untuk membangun pariwisata. Transportasi udara perlu dibenahi dan ini perlu bantuan pemerintah pusat. Dilarangnya pengoperasian Merpati MA-60 ke sejumlah daerah di Flores ikut membuat lesunya pariwisata Flores. Ini juga harus duiperjuangkan agar pemerintah pusat dapat memperhatikan hal ini. Kondisi ini diperparah lagi dengan kurangnya promosi dan lembaga-lembaga pengelola pariwisata di Flores. “Jadi untuk bisa benahi pariwisata Flores harus diperhatikan SDM, infrastruktur, objek pariwisata dan promosi,” kata Kornelis Soi.

Sekda Ende, Yoseph Ansar Rera mengatakan, pariwisata di Flores selama ini diurus masing-masing kabupaten. Belum ada kerjasama lintas kabupaten dalam mengurus pariwisata. Dulu, kata dia pernah dibangun kerjasama dimaksud namun kemudian tidak berjalan dan hanya Sikka yang tetap berjalan. Ke depan, perlu dibangun pemahaman bersama agar Flores menjadi satu kawasan pariwisata. Manajemen pariwisata harus diperkuat agar Flore sbisa menjadi satu destinasi pariwisata.

20 September 2010

Sail Indonesia, Jadikan Nanganio Desa Pariwisata Bahari

  • Perlu Kerjasama Lintas Sektor

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Pelaksanaan Sail Indonesia 2010 yang menyinggahi Ende di Nanganio Kecamatan Maurole sudah berakhir namun ke depan perlu dilakukan pembenahan terutama desa-desa tujuan wisata. Nanganio sebagai lokasi kunjungan perlu dilakukan pembenahan sehingga dapat dijadikan desa pariwisata bahari.

Hal itu dikatakan Anna Anni Labina, mantan Kepala Dinas Pariwisata yang baru dimutasikan menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UKM. Menurutnya, pelaksanaan Sail Indonesia 2010 menunjukan ada kemajuan. Kendatipun sail sudah selesai namun masih ada kapal yang masuk dan menyinggahi Ende. Total kapal yang masuk selama jadwal sail sebanyak 22 dan pada Sabtu kembali masuk 11 kapal sehingga menjadi 33 kapal yang menyinggahi Nanganio.

Sail Indonesia tahun 2010 ini, kata Any Labina, banyak sailor yang menyinggahi Ende lebih awal dari jadwal yang ditetapkan yakni apda 25 Agustus. Sejak Senin (23/8), kapal-kapal para wisatawan peserta Sail Indonesia 2010 sudah menyinggahi Ende. Kondisi ini disebabkan karena ada titik persinggaan dari 19 titik persinggahan yang tidak menerima para sailor. Selain itu karena terjadi kerusakan pada mesin kapal sehingga mereka langsung menyinggahi Ende.

Diakuinya, untuk mampu mendukung Ende tetap menjadi lokasi titik singgah Sail Indonesia pada tahun 2011 mendatang, perlu dilakukan evaluasi dan pembenahan. Pembenahan dilakukan untuk menyiapkan masyarakat di titik-titik singah yang akan dikunjungi wisatawan saat tiba di Ende. Desa-desa yang menjadi titik singgah, lanjut dia perlu dibenahi dan mempersiapkan masyarakat agar ke depan, desa-desa persinggahan itu dapat dijadikan desa pariwisata bahari seperti di Desa Nanganio.

Soal pemberdayaan, kata Any Labina, dia malah mempertanyakan pemberdayaan seperti apa. Hal itu karena selama pelaksanaan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan selalu melibatkan masyarakat di lokasi titik singgal sail. “Prinsip pemebrdayaan sebenarnya sudah kita lakukan seperti melibatkan masyarakat dalam penyiapan panggung, pementasan malam kesenian,” katanya.

Menurutnya, yang perlu didorong saat ini, kata dia adalah asas kemandirian dan keberlanjutan. Artinya, setelah masyarakat disiapkan dan mereka mampu nantinya pelaksanaan sail dapat diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat setempat dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Berkelanjutan, kata dia diharapkan setelah seluruh titik kunjungan dapat disiapkan dengan baik, dapat dikunjungi setiap saat dan tidak hanya pada saat sail. “Jadiu nantinya dapat menjadi desa wisata online yang berkelanjutan,” kata Any Labina.

Sail, kata dia, merupakan ajang berbuka diri untuk menerima kedatangan wisatawan asing apalagi, memiliki keindahan laut yang luar biasa. Karena itu, perlu berbenah diri untuk menyambut wisatwan asing mengingat sail juga merupakan ajang promosi pariwisata. Kehadiran wisatawan harus dibuat betah agar tinggal lebih lama. Karena itu, pemerintah perlu mendukung desa-desa yang ada untuk berbenah diri agar menjadi desa pariwisata bahari. “Dkungan harus datang dari ebrbagai sektor terkait,” katanya.

Any Labina mengakui, dalam pelaksanaan sail kali ini dinas membutuhkan dana Rp242 juta. Dana tersbeut, kata dia sudah didistribusikan ke semua titik singgah. Dana juga sudah dibagikan kepada sanggar yang menampilkan acara pada saat pelaksanaan sail. Juga ke Kecamatan Maurole senilai Rp58,750 juta untuk membiayai pembuatan panggung, malam galah diner, musik suling dan mosalaki.

06 September 2010

Sail Indonesia 2010, Dinas Pariwisata Butuhkan Dana Rp242 Juta

* Gaby Ema Minta Dana Tidask Usah Dialokasikan

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ende dalam rangka mempersiapkan dan mensukseskan penyelenggaraan Sail Indonesia 2010 meminta alokasi dana sebesar Rp242 juta. Dalam penetapan APBD tahun anggaran 2010 lalu anggaran penyelenggaraan Sail Indonesia 2010 tidak dialokasikan sehingga dinas meminta agar disetujui lembaga Dewan penggunaan dana sisa lebih perhitungan (Silpa) APBD 2009.


Hal itu terungkap dalam denngar pendapat Badan Anggaran DPRD Ende dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Ende, Sabtu (31/7). Rapat Badan Anggaran dipimpin Marselinus YW Petu didampingi Wakil Ketua, M Liga Anwar.


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ende, Anna Anny Labina pada kesempatan itu mengatakan, sail Indonesia 2010 direncanakan akan menyinggahi Ende di Nanganio Kecamatan Maurole selama tiga hari. Dikatakan, dari 125 kapal layar yang ikut serta dalam sail tahun ini, para sailor akan terbagi dua yakni ke Alor dan Rote dan terdapat 45 kapal yang sudah mendaftar untuk menyinggahi Ende. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2009 lalu yang hanya 11 kapal. Yayasan Cinta Bahari, lanjut Ani Labina, terus melakukan promosi agar para sailor mau menyinggahi Ende dan mengunjungi Danau Kelimutu.


Ani Labina mengatakan, untuk mensukseskan penyelenggaraan Sail Indonesia 2010 tahun ini, dinas membutuhkan anggaran sebesar Rp242 juta. Menurutnya, kegiatan promosi budaya memang membutuhkan dana yang cukup besar. Pada awal penetapan APBD 2010 lalu, dinas mengajukan anggaran sebesar Rp4,5 miliar. Namun dalam proses pembahasan di Dewan, dinas hanya mendapatkan alokasi dana sebesar Rp500 juta. Dana Rp500 juta itu, kata Labina telah dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan rutin dan pembangunan kebudayaan dan pariwisata.


Karena itu, katanya, untuk kegiatan promosi tidak dapat mengambil dari dana Rp500 juta saat penetapan awal tersebut. Dari anggaran R242 juta yang diajukan dinas itu, jika dalam penggunaannya tidak seluruhnya terserap maka dinas akan mengembalikannya ke kas daerah.


Marsel Petu pada kesempatan itu mengatakan, Sail Indonesia merupakan kegiatan yang sudah mendunia dan sudah masuk ke wilayah Kabupaten Ende. Dia berharap, penyelenggaraan sail ini memiliki makna agar ke depan pendapatan daerah dari sektor pariwisata lebih besar lagi.


Terkait pengajuan dians kepada bupati untuk menggunakan dana silpa tahun 2009 yang kemudian diajukan ke Dewan untuk mendapatkan persetujuan, Marsel Petu menyetujui untuk dialokasikan. Hanya saja dia mempertanyakan jika sail merupakan kegiatan rutin kenapa tidak dianggarkan dalam rencana kerja dan anggaran di dinas.


Menurutnya, hakekat penggunaan dana silpa dan hakekat anggaran harus dipahami benar agar dalam pemanfaatannya benar-benar sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku.


Menanggapi hal itu, Gabriel Dala Ema mengatakan, pelaksanaan sail pada tahun 2009 lalu dinilai gagal. Dia mempertanyakan apakah tujuan penyelenggaraan sail untuk mewnghibur rakyat ataukah untuk promosi pariwisata. Hal itu karena kegiatan ini sama sekali tidak menghibur masyarakat dan tidak ada dampak pada promosi pariwisata.


Penggunaan dana Rp242 juta untuk penyelenggaraan sail, kata dia sebaiknya tidak dianggarkan. Dana sebesar itu, menurut dia lebih baik dimanfaatkan untuk membuka akses ke daerah pariwisata atau membuka jalan untuk membantu masyarakat yang membuthkan jalan. “Dana itu bisa bangun jalan baru untuk rakyat daripada untuk hargai tamu yang datang padahal mereka sendiri juga tidak kenal kita,” kata Geby Ema.


Dia sangat tidak setuju jika Dewan menyetujui pengalokasian dana silpa untuk penyelenggaraan sail. “Saya satu orang yang tidak setuju dialokasikan kalau Badan Anggaran menyetujuinya,” kata Geby Ema. Menurutnya, penggunaan dana untuk sail sangat tidak berpihak pada masyarakat sehingga lebih baik dialokasikan untuk membantu masyarakat Ende yang masih miskin.


Astuti Juma mengatakan, pemanfaatan dana silpa berdasarkan aturan hanya untuk kegiatan emergensi dan bencana alam. Karena itu, patut dipertanyakan sail masuk dalam komponen yang mana. Lagi pula, dalam mengalokasikan dana untuk sail perlu pula diperhatikan input, output, outcome, benefit dan impact dari kegiatan sail tersebut. Apalagi, lanjut Tuti, jika melihat kegiatan yang sama pada tahun yang lalu banyak nilai minusnya sehingga perlu dilihat kembali hakekat dari penggunaan dana silpa itu sendiri.


Haji Pua Saleh mengatakan, sejauh ini angka pasti sila belum jelas karena itu Badan Anggaran perlu pertimbangkan kembali pengalokasian dana silpa untuk sejumlah SKPD. Dia khawatir jangan sampai setelah dialokasikan ternyata silpa ril tidak mencukupi angka Rp31 miliar sesuai dengan laporanyang ada. Hal itu karena menurutnya dari silpa Rp31 milair yang ada angka yang dilaporkan terkesan direkayasa.

31 Juli 2010

Sail Indonesia 2010 Tetap Singgahi Naganio-Maurole

* Siapkan Sejumlah Titik Destinasi

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Sail Indonesia 2010 dijadwalkan akan tetap menyinggahi Kabupaten Ende di Nanganio Kecamatan Maurole sebagai salah satu titik persinggahan. Sebagai salah satu lokasi persinggahan maka pemerintah terus berupaya membenahi segala sesuatu untuk menyambut kehadiran wisatawan dengan menyiapkan sejumlah lokasi wisata yang akan dikunjungi wisatawan saat menyinggahi Ende.


Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende, Anna Anni Labina di kantor bupati Edne, Kamis (1/7). Anni Labina mengatakan, kegiatan sail Indonesia 2010 di Nanganio Kecamatan Maurole dijadwalkan selama empat hari yakni dari tangal 25-28 Agustus.


Jumlah perahu layar dan wisatawan yang akan menyinggahi Nanganio, lanjut Anni Labina sejauh ini belum dapat diketahui. Hal itu karena para wisatwan dengan perahu layar tidak diwajibkan untuk menyinggahi setiap titik persinggahan yang disiapkan panitia. Kepada para wisatawan hanya diberikan rute lokasi dan titik persinggahan.


“Singgah atau tidak kembali kepada pilihan para wisatawan,” kata Anni Labina.


Untik menarik wisawatan agar tetap menyinggahi Ende, kata dia maka perlu dilakukan persiapan pada lokasi-lokasi pariwisata andalan yang ada di Kabupaten Ende. Selain mempersiapkan titik persinggahan, yang perlu dilakukan adalah terus mempromosikan sejumlah aset wisata yang dimiliki Ende kepada para wisatawan sehingga mampu menarik mereka datang ke Ende.


Selain itu, agar tidak mengecewakan para wisatawan saat berkunjung ke Ende, kata Anni Labina maka pemerintah juga telah berupaya mempersiapkan diri. Langkah yang dilakukan adalah dengan mengelar rapat di mana dalam rapat dilakukan evaluasi dan persiapan pelaksanaan sail. Terutama yang harus diutaman dalam menyambut para wisawtan, lanjutnya adalah tetap mengedepankan sapta pesona yakni aman, bersih, sejuk, indah, tertib, ramah tama dan kenangan.


Diakui Anni Labina, dampak langsung dari Ende menjadi salah satu titik persinggan Sail Indonesia memang belum begitu dirasakan secara langsung. Namun dampak langsungnya juga ada seperti adanya peningkatan pembelian di lokasi kunjungan.


Terpenting dalam Sail Indonesia ini, katanya adalah bagaimana menata lokasi kunjungan dan mempersiapkan masyarakat. Untuk menata daerah kunjungan, aku Anni Labina, jelas membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan tidak saja dari Dinas Pariwisata. Dia mengambil contoh bagaimana melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dalam membuka akses jalan ke lokasi kunjungan. “Jadi dengan sail ini kita bisa bangun destinasi baru dan terus ditata dengan baik untuk bisa menambah daya tarik kunjungan,” kata Anni Labina.

07 Juli 2009

Prioritas 2010, Buat Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Ende

* Optimalisasikan Aset Wisata yang Ada
Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos
Sebagai upaya pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Ende secara berkelanjutan, Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Ende apda tahun 2010 nanti memprioritaskan pembuatan rencana induk pengembangan kepariwisataan Kabupaten Ende. Dalam proses itu, semua komponen tetunya harus dilibatkan guna memberikan masukan dalam pembuatan rencana induk pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Ende ini. Sedangkan untuk tahun 2009 ini, dinas masih berkonsentrasi pada bagaimana mengoptimalkan seluruh aset wisata yang dimiliki Kabupaten Ende dan jika perlu akan dibuat kontrtak kerja pengelolaan dengan pihak swasta.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ende, Ana Ani Labina di ruang kerjanya, Senin (6/7). Ani Labina mengatakan, dalam jangka pendek ini dinas akan konsentrasi pada pagelaran kegiatan-kegiatan baik yang bernuansa adat maupun yang bernuansa menghibur dan berkoordinasi dengan agen-agen pariwisata dalam upaya mendukung pariwisata di Ende tetap hidup dan berjalan maksimal.

Dikatakan, untuk mendukung pariwisata Kabupaten Ende, dinas akan berupaya agar pada tahun 2009 ini dapat membentuk dan menghidupkan kembali semua asosiasi pelaku bisnis pariwisata seperti asosiasi guide, asosiasi travel, asosiasi hotel dan asosiasi restoran. Sebenarnya, kata Labina, asosiasi travel agent , asosiasi hotel dan asosiasi guide sudah terbentuk. Namun sejauh ini, asosiasi yang ada belum berjalan secara maksimal. Untuk itu, dinas akan berupaya membentuk dan menghidupkan kembali semuanya agar dapat mendukung perkembangan pariwisata di daerah ini. “Seharusnya semua bisa bekerja sama. Kita akan buat pendampingan menuju Kota Ende sebagai kota kunjungan wisata.”

Gelar Upacara Adat
Dalam waktu dekat, telah direncanakan menggelar upacara po’o yakni upacara yang berkaitan dengan pertanian tradisional. Upacara ini, lanjutnya untuk kembali kepada kebiasaan lama yang sudah mentradisi dalam kaitan dengan pertanian. Untuk awal kegiatan ini digelar di Watuneso. Namun ke depannya, kata Labina, kegiatan ini diharapkan menjadi tradisi di setiap wilayah sehingga dengan mengangkat tradisi Po’o ini nantinya juga memberikan dampak terhadap ketahanan pangan masyarakat yang mulai kembali kepada pangan lokal yang akhir-akhir ini sudha mulai ditinggalkan.

Selain mengelar upacara Po’o, pada 14 Agustus nanti, dinas juga akan menggelar kegiatan pati ka ata mata tu’a bapu yakni upacara memberi makan para leluhur yang telah meninggal. Kegiatan ini digelar di puncak Kelimutu. Tradisi ini juga diharapkan tetap dipelihara ke depan dan nantinya dapat dijadikan aset wisata budaya yang dapat ditonton wisatawan.


Sedangkan kegiatan rutin sail internasional dengan salah satu titik persinggahan (destinasi) di Mausambi untuk tahun 2009 ini masih tetap dipertahankan. Dijadwalkan, persinggahan di Mausambi pada 409 September. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan ini dirangkai dengan pagelaran pentas budaya Kelimutu maka tahun ini tidak dilaksanakan. Namun pagelaran seni budaya tetap dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan kelompok seni di Ende-Lio.

Pindah Lokasi
Menyangkut titik singgah di Mausambi ini, Kasubag Program Dinas Pariwisata Ende, Yudit Rae mengatakan, untuk pembangunan jembatan (jetty) yang semula dibangun di Mausambi terpaksa dipindahkan. Ada kendala yang dihadapi dalam proses pembangunan jembatan tersebut. Kendala dimaksud, kata rae yakni pertama menyangkut tanah. Tanah pada lokasi tersebut ditawarkan dengan harga yang terlalu tinggi oleh mosalaki. Selain itu, pada lokasi di Mausambi sering terjadi badai. Pada saat badai, dilakukan survei di lokasi lain yang tidak mengalami badai dan ternyata ditemukan lokasi di Nanganio. “Di Nanganio tidak terjadi badai walau di Mausambi sedang badai. Jadi dipilih lokasi jetty di sana.” Pembangunan jetty tersebut merupakan tanggung jawab provinsi namun kabupaten tetap melakukan pemantauan. Dikatakan, seharusnya mereka juga memikirkan manfaat jangka panjang dari pembangunan jetty tersebut. Namun sepertinya mereka hanya memikirkan manfaat jangka pendeknya saja.