13 Juni 2010

Sikapi Persamalahan UT, Komisi B Hearing dengan Dinas PPO

* Juga Pengelola UT Ende dan KBM

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Menyikpi adanya keluhan yang terjadi dalam proses pelaksanaan perkuliahan Universitas Terbuka (UT) oleh sejumlah mahasiwa ke DPRD Ende, akhirnya disikap oleh Komisi C DPRD Ende. Komisi C menggelr dengar pendapat dengan Dinas PPO dan dihadiri pihak-pihak terkait pelaksanaan UT di Ende.


Dengar pendapat di ruang rapat Gabungan Komisi, Rabu (28/4), dipmpin Ketua Komisi C DPRD Ende, Heribertus Gani didampingi Wakil Ketua Komisi C. Philipis Kami dan dihadiri pula sejumlah anggota Komisi C diantaranya Yulius Rada, Eugenia Goreti Lado Lay, Chaerul HA Rasyid.


Heri Gani pada kesempatan itu mengatakan, keberadaan UT sejak tahun 2004-2008 telah memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan di Kabupaten Ende. Namun beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswa UT menyampaikan sejumlah keluhan. Mereka mengeluhkan nasib mereka yang sudah tidak lagi mendapatkan modul. Mereka juga mengeluhkan pembiayaan perkuliahan yang telah dibayar. Informasi yang diperoleh, kata Gani, sejak masuk mereka hanya mendapatkan modul dan semester berikutnya tidak lagi. Perkulihan juga tidak pernah tatap muka yang diselenggarakan oleh penyelenggara UT.


Para mahasiswa ini, lanjut Gani telah berupaya memperjuangkan nasib mereka bahkan hingga ke Jakarta. Namun jawaban yang mereka peroleh dari penyelenggara UT di Jakarta bahwa urusan mereka adalah urusan provinsi. Selanjutnya setelah kembali ke provinsi, pihak provinsi juga menyatakan bahwa itu adalah urusan kabupaten.


Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende, Fransiskus Hapri mengatakan, keberadaan UT selama ini dikoordinir oleh Yohanes Wawo. Segala kegiatan yang terkait dengan UT selalu dilaporkan ke dinas dan secara teknis dinas ikut terlibat. Sebagai kepala dinas, lanjut Hapri, dia selalu menandatangani surat pernyataan bagi para guru yang kuliah di UT dan untuk mendapatkan pengalaman mengajar. Selain itu, proses surat untuk mendapatkan biaya melanjutkan pendidikan bagi para guru.


Sunyoto, Ketua Kelompok Belajar Mengajar pada kesempatan itu mengatakan, keberadaannya sebagai ketua KBM adalah diangkat oleh sesama mahasiswa. Dia diangkat menggantikan Samuel Matutina untuk membantu mahasiswa dalam penyelenggaraan dan persiapan ujian. Terkait program yang ada di UT, lanjut Sunyoto ada dua yakni program pendidikan dasar dan program non pendidikan dasar. Khusus untuk program pendidikan dasar ditangani oleh Dinas PPO. Sedangkan program non pendidikan dasar adalah mahasiswa umum.


Terkait KBM, pengurus diangkat oleh mahasiswa dan hanya bertugas menyelenggarakan dan persiapan ujian. Sedangkan untuk urusan pembiayaan bukan tanggung jawabnya karena seluruh dana disetor mahasiswa melalui BRI. Program studi yang dilaksanakan adalah FISIP, FKIP dan akta mengajar atau akta IV. Khusus untuk akta IV sejak tahun 2008 semester II merupakan batas akhir untuk menyelesaikan tugas.


I Rama Pelaseke mengatakan, dia sudah berhenti dari PNS sejak 2006 dan bertugas di Kupang sejak adanya SK rektor UT bahwa dosen yang aktif dan produktif tidak boleh di luar Unit Pos Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Kupang. Untuk UT Ende, katanya, bersama UPBJJ Kupang dan pemerintah Ende dan atas restu UT pusat maka buka Pos Belajar Jarak Jauh (PBJJ) UT Ende. Sebagai dosen diberikan tugas menjadi koordinator PBJJ UT yang menaungi Flores dengan pusat di Ende.


Peran dosen dalam proses perkuliahan di UT hanya menyusun materi yang mau disampaikan. Materi yang ada lalu disiarkan melalui radio, modul, kaset maupun internet. Modul, kata dia merupakan media komunikasi dalam proses perkuliahan di UT. Selanjutnya diakses oleh mahasiswa. Dia mengakui, UT merupakan universitas negeri dengan jumlah mahasiswa terbanyak dan tersebar di seluruh pelosok nusantara.

APBD Kabupaten Ende 2010 Belum Berpihak Pada Pendidikan

* Anggaran Pendidikan Masih Berkisar 5-9 Persen

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Kemerosotan persentase kelulusan siswa-siswi SMA/MA dan SMK di Kabupaten Ende pada tahun ajaran 2009/2010 merupakan wujud dari wajah pendidikan di Kabupaten Ende yang sebenarnya. Kondisi ini memberikan jawaban atau output seluruh proses penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Ende yang salah satu penyebabnya karena anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Ende sejauh ini belum berpihak pada pendidikan. Alokasi anggaran dari APBD untuk pendidikan pada tahun anggaran 2010 masih berkisar antara 5-9 persen.


Hal itu dikatakan Ketua Komisi C DPRD Ende, Heribertus Gani kepada Flores Pos di ruang kerja Komisi C, Selasa (27/4). Menurut Gani, kemerosotan persentase kelulusan ini merupakan tamparan yang sangat besar bagi semua pihak terutama para otorisator yakni pemerintah dan DPRD, penyelenggara tingkat satuan pendidikan atau pihak sekolah yakni kepala sekolah, para guru, orang tua dan siswa. Kondisi ini, lanjutnya harus dijadikan reinstrospeksi penyelenggaraan pendidikan dalam kurun waktu terakhir.


Dengan reinstrospeksi penyelenggaraan pendidikan ini, kata Gani, dapat mengetahui titik lemah proses penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Ende. Dengan demikian, nantinya dapat diupayakan untuk mencarikan formula baru atau strategi baru untuk memperbaiki berbagai hal mulai dari aspek kebijakan, penyelenggaraan di tingkat lembaga pendidikan maupun penyelenggaraan ujian nasional (UN).


Dari tatanan kebijakan, kata Gani merupakan salah satu aspek tidak dapat disepelekan dalam menata dan membenahi pendidikan di Kabupaten Ende baik dari aspek kuantitatif maupun kualitatif. Han mendasar yang perlu diinstrospeksi adalah berkenaan dengan kebijakan anggaran. dari tahun ke tahun, angaran untuk pendidikan masih belum memenuhi standar kebutuhan penyelenggaraan pendidikan yang sesungguhnya. Padahal, UU tentang Sistem Pendidikan Nasional sudah secara tegas mengatur bahwa anggaran pendidikan baik APBN, APBD provinsi dan kabupaten harus 20 persen.


Namun, kata Gani, jika melihat kondisi Ende, hingga tahun anggaran 2010 ini Kabupaten Ende bahkan belum mencapai 10 persen alokasi anggaran untuk pendidikan. Alokasi anggaran untuk pendidikan masih berkisar antara 5-9 persen. “Kalau disandingkan dengan persentase kelulusan tahun ajaran 2009/2010 maka semua pihak harus terima karena hanya seperti itu yang kita investasikan untuk pembangunan sektor pendidikan,” kata Gani.


Lagipula, alokasi anggaran yang sudah dibawah 10 persen itu masih didominan alokasi anggaran untuk penyediaan infrastruktur. Masih sangat kecil anggaran yang disiapkan untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) para penyelenggara pendidikan khususnya bagi pengawas, guru maupun kepala sekolah.


Kondisi seperti ini, kata Gani, ke depan yang harus dilakukan pemerintah daerah adalah mengidentifikasi secara ril apa persoalan yang berdampak pada merosotnya persentase kelulusan. “Apakah karena sarana prasarana yang terbatas seperti buku atau jumlah guru yang terbatas dan tidak merata penyebarannya atau persoalan profesionalisme para guru,” kata Gani. Namun hal lain yang jugta perlu dilihat adalah kesadaran siswa dalam menyoingsong pelaksanaan UN. Menurutnya, sebagian siswa lesu dan tidak siap menghadapi UN. Kondisi ini karena adanya kebijakan alternatif bagi yang tidak lulus UN yakni ujian ulang bahkan ujian paket C untuk selamatkan siswa yang tidak lulus.


“Tapi terlepas dari semua itu, hal yang paling penting adalah kebijakan anggaran yang belum pro pendidikan. Ini juga bukti pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua dan siswa kurang respon terhadap kebijakan nasional yang naikan standar kelulusan dari 5,00 menjadi 5,5 pada tahun ajaran 2009-2010,” kata Gani. Bahkan kata Gani, kondisi ini akan lebih diperburuk jika ke depan pemerintah pusat menaikan standar kelulusan sampai pada nilai tujuh jika tidak direspon pemerintah daerah dengan kebijakan-kebijakan yang lebih tepat.


Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Ende, Fransiskus Hapri, di ruang kerjanya, Senin (26/4) mengatakan, persentase tingkat kelulusan tahun ini memang mengalami penurunan yang sangat tajam. Namun, kata Hapri, masyarakat hendaknya tidak melihat rendahnya kuantitas atau tingkat kelulusan anak tetapi hendaknya melihat berbagai upaya yang sedang dan akan dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Ende dalam rangka peningkatan kelulusan.


Rendahnya tingkat kelulusan pada tahun ini, lanjut Hapri sangat jauh dari apa yang sudah ditargetkan. Pemerintah menargetkan tingkat kelulusan 80 persen namun target itu ternyata tidak terwujud. Pencapaian target, lanjut Hapri baru bisa dicapai tergantung kerja-kerja dari tiga pihak yakni pemerintah, masyarakat dan orang tua.


Bagi para siswa yang tidak lulus UN, kata Hapri pemerintah masih memberikan kesempatan untuk mengikuti ujian ulang. Uian ulang dilaksanakan pada 10-14 Mei mendatang. Namun jika mereka tetap tidak lulus dalam ujian ulang maka diberikan kesempatan mengikuti program paket C. Dalam ujian ulang ini, para peserta hanya mengikuti ujian batgi mata pelajaran yang belum lulus. Sedangkan mata pelajaran yang sudah lulus tidak lagi diikuti.

Persiapan ke Kejurnas, Shotokai Gelar Latihan Bersama

* Berencana Kirim 12 Atlit

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Shotokai Ende kembali menggelar latihan bersama (Gashuku) untuk menyeragamkan gerakan dalam rangka mempersiapkan diri menjelang ujian kenaikan tingkat. Latihan bersama ini juga sebagai persiapan ke ajang kejuaraan nasional karate piala Mendiknas dan Mendagri di Makasar pada bulan Juni mendatang.


Hal itu dikatakan Ketua Sabuk Hitam Sotokai Ende, Agus Radja di sela-sela gashuku di gedung Baranuri, Minggu (25/4). Agus Radja mengatakan, gashuku diikuti 60 orang peserta dari total 73 anggota karate shotokai. Selama ini, terdapat tiga ranting yang berada di bawah Sotokai yakni ranting Ende 2, KLK dan Ende Selatan-Ipi. Ke depan akan ada dua ranting lagi yakni ranting LP dan KPN.


Dikatakan, pelaksanaan gashuku yang diikuti 60 peserta ini merupakan ajang penyeragaman gerakan sekaligus persiapan ujian kenaikan tingkat pada 16 Mei mendatang. Gashuku seperti ini, lanjut Radja dilaksanakan secara rutin setiap semester dan selalu dilaksanakan sebelum pelaksanaan ujian kenaikan tingkat.


Daniel Kusnadi, salah satu pelatih Shotokai mengatakan, gashuku dilatih oleh tiga pelatih lokal yakni Agus Radja, Goris Lengga dan dirinya. Dalam gashuku kali ini, pengurus besar mengirim satu pelatih untuk hadir yakni Yoktan Taneo (Dan IV Shotokai). Dia selain melakukan pendampingan pada saat gashuku juga pendampingan pada saat pemusatan latihan. Gashuku juga didampingi dua asisten pelatih yakni Fian Tena dan Yohana Fransiska.


Daniel mengakui, pelaksanaan gashuku ini juga dalam upaya Shotokai Cabang Ende mempersiapkan karateka untuk diikutsertakan dalam kejuaraan nasinal karate piala Mendiknas dan Mendagri di Makasar Juni mendatang. Untuk kejurnas ini, lanjut Daniel, selama ini mereka telah melakukan pemusatan latihan. Pemusatan latihan dilakukan di eks gedung bioskop.


Menurut rencana, Shotokai Cabang Ende akan mengirim 12 atlit karate kategori usia dini, kadet dan pemula. Para atlet karate ini akan diturunkan pada kelas 8-9 tahun, 10-12 tahun. Sebanyak 12 atlit yang telah mengikuti pemusatan latihan ini, lanjut Daniel nantinya akan digodok kembali. Jika semuanya memenuhi persyaratan maka akan dikirim semuanya. Jika tidak maka akan dipilih yang memenuhi syarat saja. “Kita akan saring yang terbaik untuk diberangkatkan,” kata Daniel.


Dia berharap dukungan pemerintah daerah terhadap atlit karate yang akan diberangkatkan ini. parta atlit yang diberangkatkan juga diharapkan mampu berprestasi guna membawa dan membesarkan nama NTT umumnya dan Ende khususnya.

2.403 Siswa SMA/SMK di Ende Tidak Lulus UN

* Tingkat SMA/MA Lulus 593 dari 2.468 dan SMK Lulus 504 dari 1.032 Peserta

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Sebanyak 2.403 siswa-siswi SMA/MA dan SMK di Kabupaten Ende tidak lulus dalam ujian nasional yang hasilnya diumumklan secara serentak pada Senin (26/4) kemarin. Dari total peserta yang tidak lulus ini, terbanyak dari SMA/MA yakni sebanyak 1.873 dari total peserta UN sebanyak 2.468. Sedangkan untuk tingkat SMK sebanyak 547 peserta yang tidak lulus dari total peserta UN 1.032.


Persentase kelulusan tertinggi diraih SMAK Syuradikara yakni 80,43 persen dari 183 peserta UN. Tingkat SMA/MA terdapat empat sekolah yang nol persen tingkat kelulusannya yakni SMAN I Nangapanda, SMAN Wolojita, SMA Swasta Katolik Taruna Vidya dan MAS Walisongo. Sedangkan tingkat SMK, satu sekolah meraih lulusan 100 persen yakni SMK Tarbiah Ende dengan tujuh orang peserta UN. Persentase kelulusan terendah diraih SMKN Ende 3 di Ekoae (7,25) dan SMKN 2 Ende (7,44).


Secara keseluruhan, persentase kelulusan UN SMA/MA dan SMK di Kabupaten Ende mengalami penurunan jika dibandignkan dengan persentase kelulusan di tahun ajaran 2008/2009. Tahun ajaran 2009/2010 ini, persentase kelulusan tingkat SMA/MA hanya 24,03 persen atau turun 47,02 persen dibanding tahun ajaran lalu yang mencapai 71,23 persen. Sedangkan untuk tingkat SMK, persentase kelulusan 30,17 persen dan mengalami penurunan 27,64 persen dibandingkan tahun ajaran lalu yang mencapai 97,42 persen.


Kendati banyak siswa yang tidak lulus, namun hasil UN kali ini juga menunjukan bahwa ada sejumlah anak yang mampu meraih angka sembilan dalam sejumlah mata pelajaran. Untuk mata pelajaran Kimia, ada tiga siswa yang meraih angka sembilan yakni Nurhalima Rahayu (SMAN I Ende), Rikardus Brian Harlie Siswanto, Rosi Ernawati Bango (SMAK Frateran Ndao). Mata pelajaran Matematika, Agub Permadi, Beatriks Asni Mako, Martinus Sastra, Jefrizal Agasi Mberu, Ambrosius Mujur Nggala, Elfrasia Tantiana Sani, Falentino Nimanuho, Flafianus Raja, Hidayah Tulah Sandin, Lilam Ayu Puspita Ade, Maidah Lestari, Yohana Beatus Sese, Yuliana Anu (SMAN I Ende), Cindy Malinda Uluang, Erwin Kelake Lau (SMAK Syuradikara), M Ros Mistika Pere (SMAK Ndao).


Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Rosmita Mariana Pake Pande, Patrisia dahlan dai, Karolina Age, Antonius Banggo, Bernadethe Evalin Nggelu, Anastasia Marselina, Albertha Vebriani Neta, Agnesia Sumirah (SMAK Syuradikara), Martinus Sastra, Ambrosius Ngala, Sri Rukmana Yusuf, Nur Syahrini, Gradiana Pape Bata, Dian Sukmawati Aron, (SMAN 1 Ende). Bahasa Jerman nilai sembilan diraih Tekla Angelina Evi dan Sofia Bara SMAN 2 Ende), Epifanus Seda Gadi (SMAK Syuradikara).


Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Ende, Fransiskus Hapri di ruang kerjanya, Senin (26/4) mengatakan, persentase tingkat kelulusan tahun ini memang mengalami penurunan yang sangat tajam. Namun, kata Hapri, masyarakat hendaknya tidak melihat rendahnya kuantitas atau tingkat kelulusan anak tetapi hendaknya melihat berbagai upaya yang sedang dan akan dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Ende dalam rangka peningkatan kelulusan.


Kepada anak-anak yang lulus UN, Hapri menagatakan kepada mereka patut diberikan apresiasi. Mereka kata dia patut dihargai karena dengan persentase kelulusan yang begitu rendah toh mereka masih mampu meraih kelulusan. Hal itu menunjukan bahwa mereka benar-benar dan sungguh memanfaatkan waktu belajar dan masa bimbingan yang dilakukan pihak sekolah. Mereka juga boleh dikatakan tidak mudah percaya terhadap SMS gelap yang memberikan kunci jawaban UN. “Mereka ini punya minta, kemampuan dan motifasi yang lebih baik dari teman-teman mereka yang belum lulus,” kata Hapri.


Rendahnya tingkat kelulusan pada tahun ini, lanjut Hapri sangat jauh dari apa yang sudah ditargetkan. Pemerintah menargetkan tingkat kelulusan 80 persen namun target itu ternyata tidak terwujud. Pencapaian target, lanjut Hapri baru bisa dicapai tergantung kerja-kerja dari tiga pihak yakni pemerintah, masyarakat dan orang tua.

Bagi para siswa yang tidak lulus UN, kata Hapri pemerintah masih memberikan kesempatan untuk mengikuti ujian ulang. Uian ulang dilaksanakan pada 10-14 Mei mendatang. Namun jika mereka tetap tidak lulus dalam ujian ulang maka diberikan kesempatan mengikuti program paket C. Dalam ujian ulang ini, para peserta hanya mengikuti ujian batgi mata pelajaran yang belum lulus. Sedangkan mata pelajaran yang sudah lulus tidak lagi diikuti.


Kepala SMAK Syuradikara, Pater Kanis Bhila, SVD mengatakan, tahun ini memang SMA Syuradikara menjadi sekolah dengan persentase kelulusan tertinggi. Namun, lanjutnya, secara intyernal, persentase kelulusan tahun ini kurang memuaskan karena jika dibandingkan dengan persentase tahun lalu 98,56 persen alami penurunan. Selain itu, ada jurusan yang tahun lalu mencapai 100 persen tahun ini tidak ada.


Terkait adanya siswa yang mencapai nilai sembilan dalam beberapa mata pelajaran, memang diakui. Namun itu juga tidak seperti tahun lalu karena tahun lalu ada yang mencapai angka 10 untuk pelajaran Kimia sedangkan tahun ini bahkan tidak bisa mencapai angka sembilan.


Untuk ujian ulang dari 10-14 Mei, pendaftaran dibuka mulai Rabu. Pihak sekolah mengundang dan mengajak para siswa untuk mendaftar dan mengikuti bimbingan dari sekolah untuk persiapan mengikuti ujian ulang nanti.

Sementara Kepala SMA Swasta Taruna Vidya, Johanes Lenta dalam arahan dihadapan para orang tua/wali murid sebelum pembagian amplop mengatakan, pada usia emas 50 tahun SMA Tarvid, ternyata mendapatkan tantangan. Namun, kata dia, dengan adanya tantangan ini diajak untuk menata kembali pendidikan di lembaga ini dalam rangka berkiprah memajukan manusia di Kabupaten Ende. Rendahnya tingkat kelulusan di SMA Tarvid, kata dia juga dialami banyak sekolah lain di Ende. Seluruhnkepala sekolah telah bersepakat agar tantangan ini dijadikan cambuk untuk bangkit kembali dan lebih dewasa dalam membangun pendidikan di Ende.


Dikatakan, mungkin dengan rendahnya tingkat kelulusan ini perhatian pemerintah lebnih ditingkatkan mengingat tahun ini perhatian pemerintah sangat kurang untuk pendidikan. Untuk itu perlu bangun kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua. Dia juga berharap, dengan penurunan persentase kelulusan ini tidak saling mengkambinghitamkan dan mempersalahkan satu sama lain. “Harap hari ini tidak saling mengkambinghitamkan . saloing tuding. Mari refleksi untuk buat komitmen terbaik,” kata Johanes.


Pantauan Flores Pos di sejumlah sekolah dalam Kota Ende, suasana kegembiraan yang meledak-ledak seperti yang biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya kurang begitu nampak. Siswa-siswi yang belum mengetahui hasil pengumuman kelulusan nampak duduk bergerombol. Wajah mereka nampak gelisah menanti hasil pengumuman. Polisi juga disiagakan di sejumlah tempat yang sering digunakan pada siswa untuk berkumpul merayakan kelulusan. Pada jalur jalan yang ramai juga ditempatkan sejumlah petugas dari Satlantas Polres Ende guna mengantisipasi adanya konfoi kendaraan. Aparat kepolisian juga disiagakan di SMKN 2 (STM) guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.