18 Agustus 2010

Bank NTT Ende Gelar Nonton Bareng Penarikan Undian Berhadiah

* Juga Bagi-Bagi Paket Door Prize

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Bank NTT Cabang Ende dalam rangka memeriahkan harinulang tahun (HUT) ke-48 menggelar doa bersama dan nonton bareng acara penarikan undian berhadiah yang dipusatkan di gedung Baranuri. Pada kesempatan itu, Bank NTT Cabang Ende juga membagi-bagikan hadiah paket door prize kepada 10 orang nasabah dan tamu undangan yang beruntung pada acara HUT dan nonton bareng tersebut.


Sebelum acara nonton bareng di gedung Baranuri, Sabtu (17/7), terlebih dahulu digelar doa syukur HUT ke-48 Bank NTT yang dipimpin Pendeta Silvia O Raga.


Pimpinan Cabang Bank NTT Cabang Ende, Thadeus Sola pada kesempatan itu membacakan sambutan Direktur Utama Bank NTT Daniel Tagu Dedo. Tagu Dedo dalam sambutannya mengatakan, total aset Bank NTT hingga 30 Juni 2010 telah mencapai Rp4,4 triliun. Dana yang berhasil dihimpun dari pihak ketiga sebesar Rp3,4 triliun atau mengalami peningkatan Rp500 miliar dibandingkan kondisi 31 Desember 2009. sedangkan untuk kredit, Bank NTT telah berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp3,3 triliun. Kondisi ini terjadi peningkatan 83,06 persen dibandingkan kondisi per 31 Desember 2009 yakni sebesar Rp2,8 triliun.


Hingga 30 Juni 2010, lanjutnya, laba bersih yang telah dicapai tercatat sebesar Rp162 miliar. Kondisi ini melampaui target lama pada bulan Juni 2010 yang ditetapkan sebesar Rp102 miliar. Pencapaian ini hampir menyamai laba 12 bulan tahun 2009 yang mencapai Rp171 miliar.


Dikatakan, semuanya itu merupakan hasil kerja keras yang dilandasi ketulusan dan tekad kuat semua pihak untuk membenahi diri agar dapat bersaing dengan perbankan di tingkat nasional sekalipun. Prestasi kinerja keuangan Bank NTT telah mendapat pengakuan dari erbabagi pihak yang dibuktikan dengan diterimanya penghargaan nasional tahun 2010. diantaranya, dari Majalah Investor sebagai Bank Terbaik 2010 kategori BPD dengan total aset di bawah Rp10 Triliun. Penghargaan diterima pada 3 Juni lalu. Penghargaan lainnya yakni dari Asian Banking Finance Informatics (ABFI) Institute Perbanas dan Tempo Group Banking Award kategori BPD Menengah dengan aset di bawah Rp10 Triliun pda 7 Juli 2010. Bank NTT juga ditetapkan sebagai bank sangat bagus. Penghargaan ini sudah 11 kali berturut-turut diberikan dari Majalah Info Bank.


Thadeus Sola pada kegiatan pembagian paket sembako, beasiswa dan donor darah di kantor Bank NTT Cabang Ende sebelumnya mengatakan, dalam usianya yang ke-48, dia berharap Bank NTT akan lebih mapan dan lebih mandiri sehingga mampu menyumbangkan hasil usahanya sebagai salah satu pendapatan asli daerah. Kehadiran Bank NTT, lanjutnya jua diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, merangsang pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha. Selain itu, Bank NTT diharapkan tetap menjadi partner pemerintah daerah dalam pembangunan. “Keberadaan Basnk NTT juga sebagai penyumbang pajak bagi daerah,” kata Sola.


Kepada masyarakat dia berharap agar lebih merasa memiliki dan dapat memanfaatkan keberadaan Bank NTT karena bank NTT adalah milik pemerintah Provinsi NTT yang adalah milik masyarakat NTT. Dalam menjalankan fungsi intermediasi, menampung dan menyalurkan dana kepada masyarakat, kehadiran Bank NTT sangat membantu. Apalagi, kata dia, keberadaan Bank NTT adalah di NTT maka dana yang dihimpun akan tetap berputar di NTT dan tidak lagi lari ke luar daerah.


“Kalau bank nasional biasanya kalau dana belum mampu diserap di daerah maka dikembalikan ke kantor pusat dan akan berputar di luar daerah,” kata Sola.


Mario Sari, salah seorang staf di Bank NTT mengatakan, dengan HUT ke-48 Bank NTT ini dia berharap Bank NTT semakin maju dan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Sebagai salah seorang karyawan di Bank NTT, dia merasa bangga Bank NTT telah berjuang dan mampu bersaing di tengah persaingan dunia perbankan yang kian hari kian terasa. Dia berharap, ke depan, Bank NTT tetap jaya dan selalu memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah yang adalah rakyat dan masyarakat NTT sesuai motonya Bank NTT ‘melayani dengan sungguh’.

Jelang HUT ke-48, Bank NTT Beri Bantuan Beasiswa dan Gelar Donor Darah

* Juga Bantuan Paket Sembako Bagi Keluarga Kurang Mampu

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Bank NTT Cabang Ende memberikan bantuan sembako kepada 50 keluarga kurang mampu, beasiswa kepada enam pelajar dan kegiatan donor darah lingkup karyawan Bank NTT. Selain menggelar kegiatan sosial, Bank NTT juga akan melakukan penarikan undian berhadiah. Rangkaian kegiatan ini digelar Bank NTT Cabang Ende dalam rangka menyongsong hari ulang tahun ke-48 pada 17 Juli. Kegiatan-kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat dan kepedulian Bank NTT terhadap dunia pendidikan.


Hal itu dikatakan Pimpinan Cabang Bank NTT Cabang Ende, Thadeus Sola kepada Flores Pos di ruang kerjanya, Kamis (15/7) sebelum menyerahkan bantuan sosial kepada masyarakat yang menerimanya. Dikatakan, pemberian bantuan 50 paket sembako kepada warga, pemberian beasiswa kepada siswa SD, SMP dan SMA masing-masing dua orang dan donor darah lingkup karyawan Bank NTT dipilih karena bantuan itu dapat menyentuh langsung kepada masyarakat.


Selain itu, pelaksanaan donor darah dipandang perlu guna membantu kebutuhan darah bagi PMI dan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan. Pemberian bantuan beasiswa, lanjut Sola, merupakan wujud kepedulian Bank NTT terhadap dunia pendidikan. Apalagi, kata dia, tahun ajarn ini persentase kelulusan begitu rendah sehingga dia berharap, bantuan kendatipun kecil namun dapat membantu siswa penerima dalam menunjang peningkatan prestasi belajarnya.


Selain menggelar kegiatan sosial, lanjut Sola, Bank NTT juga menggelar kegiatan internal yakni pertandingan tenis meja dan permainan kartu.


Terkait penarikan undian, kata Sola, akan dilakukan secara terpusat di Kupang. Hanya saja, untuk Ende akan dilaksanakan nonton bareng acara penarikan undian pada Sabtu (17/7) hari ini di gedung Baranuri. Acara penarikan undian berhadian dengan total hadiah Rp2 miliar lebih itu akan disiarkan secara langsung Stasiun TVRI Kupang. Dalam kegiatan nonton bareng penarikan hadiah undian ini, lanjut Sola, akan dihadiri perwakilan nasabah dari setiap kantor cabang pembantu dan kantor cabang.


Dalam usianya yang ke-48, lanjut Sola dia berharap Bank NTT akan lebih mapan dan lebih mandiri sehingga mampu menyumbangkan hasil usahanya sebagai salah satu pendapatan asli daerah. Kehadiran Bank NTT, lanjutnya jua diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, merangsang pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha. Selain itu, Bank NTT diharapkan tetap menjadi partner pemerintah daerah dalam pembangunan.


“Keberadaan Basnk NTT juga sebagai penyumbang pajak bagi daerah,” kata Sola.


Kepada masyarakat dia berharap agar lebih merasa memiliki dan dapat memanfaatkan keberadaan Bank NTT karena bank NTT adalah milik pemerintah Provinsi NTT yang adalah milik masyarakat NTT. Dalam menjalankan fungsi intermediasi, menampung dan menyalurkan dana kepada masyarakat, kehadiran Bank NTT sangat membantu. Apalagi, kata dia, keberadaan Bank NTT adalah di NTT maka dana yang dihimpun akan tetap berputar di NTT dan tidak lagi lari ke luar daerah.


“Kalau bank nasional biasanya kalau dana belum mampu diserap di daerah maka dikembalikan ke kantor pusat dan akan berputar di luar daerah.”


Di hadapan penerima bantuan, Sola mengatakan, bantuan yang diberikan tidak seberapa. Namun dia berharap, bantuan itu dapat sedikit meringankan beban keluarga. Selain itu, dia juga meminta kepada para penerima bantuan agar ke depan jika memiliki uang dapat disimpan di Bank NTT karena bank NTT adalah milik mereka juga.


Pantauan Flores Pos, para penerima bantuan baik paket sembako maupun beasiswa begitu sukacita menerima bantuan dari Bank NTT. Wajah-wajah ceria dan tersenyum bahagia saat menerima paket yang diserahkan langsung oleh Pimpinan Cabang Bank NTT, Thadeus Sola.


Usai menyerahkan paket sembako dan beasiswa kepada para siswa peneirma, Pimpinan Cabang, Thadeus Sola langsung melakukan donor darah kerja sama dengan PMI Cabang Ende diikuti karyawan lainnya yang memenuhi syarat untuk mendonorkan darahnya.

Markus Wara, Anggota Pol PP Ende Belum Butuh Dipersenjatai

* Situasi Ende Masih Kondusif

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Ende, Markus Wara mengatakan, melihat kondisi Ende yang masih sangat kondusif, anggota Satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) di Edne belum perlu untuk dipersenjatai. Karena itu, terkait wacana nasional mempersenjatai Pol PP sejauh ini belum diresponnya dan juga belum disampaikan permintaan kepada bupati.


Kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (16/7), Markus Wara mengatakan, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2010 memang diberikan ruang untuk mempersenjatai Pol PP dan itu merupakan wacana di tingkat nasional. Namun, lanjut Wara, untuk Kabupaten Ende, sejauh ini sebagai pimpinan di Pol PP dia belum berpikir untuk mempersenjatai anggotanya. Karena itu, rencana dan wacana nasional itu belum pernah dia sampaikan kepada bupati. “Regulasi memang sangat jelas tapi selaku penanggung jawab di sini belum berpikir untuk sampaikan kepada bupati,” kata Wara.


Dikatakan, alasan dia tidak berpikir untuk mempersenjatai anggota Pol PP karena kondisi Kabupaten Ende sampai saat ini sangat kondusif. Selain itu, untuk pengadaan senjata guna mempersenjatai anggota Pol PP jelas membutuhkan anggaran yang besar sedangkan APBD Ende sangat tidak memungkinkan.


Namun dia mengakui, saat ini Satpol PP sudah memiliki empat unit senjata yakni dua unit senjata jenis gas spray revolver merk knock-down 5 dengan amunisi lima butir. Dua unit pistol semprotan gas merk super 7 dengan amunisi satu.


Empat unit senjata itu, kata Wara hanya dikuasainya sebagai kasat dan tiga orang kepala seksi. Penguasaan senjata ini atas rekomendasi dan selalu dalam pengawasan Polres Ende. Empat unit senjata ini sudah diadakan sejak tahun 2007 bersamaan dengan pembangunan gedung dan pengadan mobil. Penguasaan senjata ini sesuai dengan PP nomor 32 Tahun 2004.


“Sebelum diberikan sudah melalui proses pengujian dan setiap tahun diperpanjang ijin penggunaannya,” kata Wara.


Ditanya sinyalemen terkait kesiaan mental dan sikap arogan yang ditunjukan oleh anggota Satpol PP sehingga tidak perlu dipersenjatai, Wara mengatakan, saat ini anggotanya selalu dilakukan pembinaan. Selain itu, sikap arogan anggota dilakukan tentunya ada sebab. Karena itu, dalam setiap kegiatan, Pol PP selalu berkoordinasi termasuk dalam penertiban para siswa yang berkeliaran pada saat jam belajar agar tidak terjadi salah paham antara pihak sekolah dan petugas Satpol PP.


Sebelumnya, dalam dengar pendapat OKP di Kabupaten Ende dengan Komisi A DPRD Ende, sejumlah OKP menyerukan agar Pol PP Ende tidak perlu dipersenjatai.


Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ende, Andreas Eusebius meminta kepada pemerintah untuk tidak mempersenjatai Polisi Pamong Praja (Pol PP) dengan senjata. Selama ini, Pol PP yang tidak dipersenjatai dengan senjata saja sudah menimbulkan berbagai permasalahan. Sehingga dikhawatirkan jika dipersenjatai nantinya malah dapat menimbulkan permasalahan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).


Andreas mengatakan, DPRD Ende melalui Komisi A harus mendesak pemerintah agar tidak mempersenjatai Pol PP di Kabupaten Ende dengan senjata. Menurutnya, selama ini ketika Pol PP belum dipersenjatai saja sudah sering menimbulkan permasalahan dan menyalahgunakan kekuasaan. “Apalagi nanti kalau sudah dipersenjatai mereka bisa menimbulkan pelanggaran HAM,” kata Andreas.


Menurutnya, yang perlu dilakukan terhadap Pol PP saat ini adalah mempersiapkan mental dan perilaku anggota Pol PP agar tidak bertindak arogan. Hal itu karena selama ini, Pol PP lebih mengandalkan fisik dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Dia mengambil contoh kasus pemukulan mahasiswa STPM Santa Ursula yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi contoh bahwa arogansi Pol PP sudah sering terjadi. Karena itu dikhawatirkan, jika nanti Pol PP dipersenjatai justru akan menimbulkan permasalahan baru di dalam masyarakat.

Maxi Deki dari Komisi A DPRD Ende, mengatakan, kondisi Kabupaten Ende hingga saat ini masih sangat kondusif karena itu langkah atau rencana mempersenjatai Pol PP sangat tidak populis. Menurutnya, sejauh ini, tanpa dipersenjatai juga Pol PP dapat bekerja secara maksimal. “Kalau dipersenjatai Pol PP apa fungsinya?” tanya Maxi Deki.


Karena itu, lanjutnya, saat ini Pol PP di Ende tidak perlu dipersenjatai. Lagi pula, kata dia, jika Pol PP dipersenjatai mau dikemanakan fungsi TNI dan Polri yang selama ini sudah bertugas menjaga keamanan, ketentraman dan keutuhan negara.


Maxi juga mengkhawatirkan jika ke depan Pol PP dipersenjatai justru akan menimbulkan permasalahan kemasyarakat yang baru. Pendekatan-pendekatan persuasif yang selama ini sudah dibangun harus dipertahankan. Apalagi, mempersenjatai Pol PP jelas konsekwensi pada anggaran untuk pengadaan senjata. Padahal, masih banyak kebutuhan masyarakat yang lebih membutuhkan prioritas daripada berpikir untuk menghamburkan anggaran untuk mempersenjatai Pol PP.

Pemerintah Diminta Tidak Mempersenjatai Pol PP

* Bina Dulu Mental Anggota Pol PP

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ende, Andreas Eusebius meminta kepada pemerintah untuk tidak mempersenjatai Polisi Pamong Praja (Pol PP) dengan senjata. Selama ini, Pol PP yang tidak dipersenjatai dengan senjata saja sudah menimbulkan berbagai permasalahan. Sehingga dikhawatirkan jika dipersenjatai nantinya malah dapat menimbulkan permasalahan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).


Hal itu diungkapkan Andreas Eusebius saat dengar pendapat Komisi A DPRD Ende dengan organisasi kemasyarakatan yang ada di Kabupaten Ende. Dialog yang dilangsungkan di ruang rapat Gabungan Komisi DPRD Ende, Kamis (15/7) dihadiri unsur OKP dari GMNI, PMKRI, Gerakan Pemuda Ansor dan HMI. Rapat dengar pendapat dipimpin Oktafianus Moa Mesi dihadiri ketua Komisi A, Haji Yusuf Oang, dan sejumlah anggota diantarany, Haji Mohamad Taher dan Maximus Deki.


Andreas mengatakan, DPRD Ende melalui Komisi A harus mendesak pemerintah agar tidak mempersenjatai Pol PP di Kabupaten Ende dengan senjata. Menurutnya, selama ini ketika Pol PP belum dipersenjatai saja sudah sering menimbulkan permasalahan dan menyalahgunakan kekuasaan. “Apalagi nanti kalau sudah dipersenjatai mereka bisa menimbulkan pelanggaran HAM,” kata Andreas.


Menurutnya, yang perlu dilakukan terhadap Pol PP saat ini adalah mempersiapkan mental dan perilaku anggota Pol PP agar tidak bertindak arogan. Hal itu karena selama ini, Pol PP lebih mengandalkan fisik dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Dia mengambil contoh kasus pemukulan mahasiswa STPM Santa Ursula yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi contoh bahwa arogansi Pol PP sudah sering terjadi. Karena itu dikhawatirkan, jika nanti Pol PP dipersenjatai justru akan menimbulkan permasalahan baru di dalam masyarakat.

Maxi Deki dari Komisi A DPRD Ende, mengatakan, kondisi Kabupaten Ende hingga saat ini masih sangat kondusif karena itu langkah atau rencana mempersenjatai Pol PP sangat tidak populis. Menurutnya, sejauh ini, tanpa dipersenjatai juga Pol PP dapat bekerja secara maksimal.


“Kalau dipersenjatai Pol PP apa fungsinya?” tanya Maxi Deki.


Karena itu, lanjutnya, saat ini Pol PP di Ende tidak perlu dipersenjatai. Lagi pula, kata dia, jika Pol PP dipersenjatai mau dikemanakan fungsi TNI dan Polri yang selama ini sudah bertugas menjaga keamanan, ketentraman dan keutuhan negara.


Maxi juga mengkhawatirkan jika ke depan Pol PP dipersenjatai justru akan menimbulkan permasalahan kemasyarakat yang baru. Pendekatan-pendekatan persuasif yang selama ini sudah dibangun harus dipertahankan. Apalagi, mempersenjatai Pol PP jelas konsekwensi pada anggaran untuk pengadaan senjata. Padahal, masih banyak kebutuhan masyarakat yang lebih membutuhkan prioritas daripada berpikir untuk menghamburkan anggaran untuk mempersenjatai Pol PP.


Selain itu, kata dia, di dalam Permendagri yang mengatur tentang mempersenjatai Pol PP tidak ada kata harus atau mewajibkan pemerintah untuk mempersenjatai Pol PP. Yang ada di dalam Permendagri hanyalah kata dapat karena itu kembali kepada daerah mencerna kata itu dan jika tidak maka tidak perlu dipersenjatai.


Hal senada juga diungkapkan Oktafianus Moa Mesi. Menurut Fian, Pol PP selama ini yang tidak dipersenjatai saja sudah bertindak arogan. Apalagi nanti bila sudah dipersenjatai. Karena itu dia mengimbau agar Pol PP tidak perlu diberikan senjata.