17 Februari 2010

Sikapi Isu dan Selebaran, Komisi A DPRD Ende Keluarkan Imbauan

* Polres Ende Siap Amankan Sidang

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Komisi A DPRD Ende dalam upayanya menyikapi isu-isu dan selebaran yang berbau SARA dan membawa-bawa isu gama yang berkembang di masyarakat akhir-akhir ini akhirnya mengeluarkan imbauan. Isu-isu dan selebaran yang tersebar luas di masyarakat tersebut dinilai merupakan isu negatif dan harus dilawan dengan isu positif seperti mengeluarkan imbauan seperti itu. Komisi A mengeluarkan lima butir imbauan yang dihasilkan melalui rapat Komisi A dan telah mendapat persetujuan dari Pimpinan DPRD Ende.


Lima butir imbauan yang dikeluarkan Komisi A, pertama, dimohon kepada segenap masyarakat Kabupaten Ende untuk jangan terpengaruh dengan isu-isu yang tengah merebak akhir-akhir ini yang bernada provokatif. Kedua, apabila ada pihak-pihak tertentu yang melakukan provokasi dengan menghasut masyarakat untuk melakukan perbuatan anarkis (perbuatan melawan hukum) dimohon untuk melaporkan kepada pihak berwajib.

Ketiga, dimohon kepada seluruh masyarakat Kabupaten Ende agar tetap menjaga keharmonisan hubungan yang terjalin baik selama ini dan tetap melakukan aktifitas sehari-hari sebagaimana biasa. Keempat, mengimbau kepada pihak keamanan melakukan langkah-langkah antisipasi. Kelima, mengimbau kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Ende melalui struktur dan hirarkinya untuk melakukan pertemuan dan pendekatan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh wanita, tokoh pemuda dan elemen masyarakat lainnya.


Ketua Komisi A DPRD Ende, Haji Yusuf Oang didampingi Wakil Ketua Komisi A, Simplisius Lea Mbipi dan anggota Komisi A Haji Muhamad Taher di ruang Komisi A, Selasa (9/2) kepada wartawan mengatakan, menyebarnya isu melalui SMS dan selebaran di masyarakat mendorong Komisi A untuk mengambil sikap dan memberikan imbauan kepada masyarakat. Masyarakat, kata Yusuf Oang, perlu diberikan imbauan untuk tidak mudah terprofokasi dengan adanya isu-isu dan selebaran yang ada. Bahkan, katanya, dengan hadirnya isu-isu yang mengatasnamakan agama dan berbau SARA seperti itu diharapkan semakin membuat masyarakat meningkatkan dan menjaga solidaritas persaudaraan yang sudah dibangun baik selama ini.


Selain mengeluarkan imbauan, kata Yusuf Oang, anggota DPRD Ende akan memanfaatkan waktu saat mengikuti kegiatan musyawarah rencana pembangunan (Musrembang) di kecamatan untuk menyampaikan langsung imbauan kepada masyarakat. Anggota Dewan yang mempunyai basis massa juga bisa menyampaikannya kepada mereka agar tidak mudah terprofokasi. Isu-isu dan selebaran yang berkembang, kata dia tentu saja sudah diidentifikasi pihak keamanan dan mereka tentunya sudah mengambil langkah-langkah antisipasi.


Dikatakan, imbauan yang telah dibuat itu juga nantinya diberikan kepada setiap rumah ibadah untuk dibacakan pada saat shaat Jumad di masjid-masjid dan misa hari Minggu di gereja-gereja. Komisi A DPRD Ende, kata Yusuf Oang, tidak saja sebatas mengeluarkan imbauan. Namun ke depan, akan terus pula melakukan pemantauan dan terus memberikan masukan kepada pihak terkait lainnya guna menjaga Ende tetap kondisuf.


Ditanya terkait pelaksanaan sidang kasus dugaan penyimpangan keuangan yang melibatkan tersangka Iskandar Mohamad Mberu yang menurut rencana digelar di Ende dan mengantisipasi timbulnya hal yang tidak diinginkan sejalan dengan isu dan selebaran yang ada, Yusuf Oang katakan, Dewan baik secara komisi maupun secara kelembagaan tentunya tidak akan tinggal diam. Situasi yang terjadi di Ende akan terus dipantau. Jika satu minggu menjelang digelarnya sidang ternyata dari hasil pantauan situasi tidak memungkinkan untuk digelar sidang di Ende maka Dewan akan memberikan masukan kepada aparat penegak hukum untuk tidak memaksanakan pelaksanaannya di Ende. Hal itu perlu agar proses hukum atas kasus ini tetap berjalan dan situasi keamanan dan ketertiban di Ende tetap terpelihara.


Wakil Ketua Komisi A, Simplisius Le Mbipi mengatakan, sebagai wakil rakyat tentunya perlu menanggapi setiap isu yang datang apalagi isu-isu negatif. Dengan mengeluarkan imbauan ini, dia berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tidak perlu menanggapi isu-isu tersebut. Menurutnya, masyarakat Kabupaten Ende merupakan masyarakat yang memiliki pertalian darah sangat kental walaupun berbeda agama. Menurutnya, pertalian darah masyarakat Kabupaten Ende ini merupakan modal dasar dan menjadi filter yang luar biasa untuk menangkal segala isu yang bernuansa SARA.


Kepala Kepolisian Resor Ende, AKBP Bambang Sugiarto di kantor bupati, Selasa mengatakan, isu-isu yang beredar melalui SMS dan selebaran yang beredar perlu diselidiki. Menurutnya, bisa saja isu dan selebaran itu disebarkan hanya untuk mengkambinghitamkan orang lain. Isu-isu seperti itu, bisa saja dimanfaatkan oleh pihak ketiga. “Itu bisa saja terjadi. Namaya juga politik,” kata Kapolres Sugiarto.


Terkait penyebar sms dan selebaran berisi isu dan teror tersebut, kata Sugiarto, polisi sudah mencurigai orang-orang tertentu. Namun polisi masih terus mempelajari dan belum mengambil langkah lebih lanjut. Dia juga menyesalkan sikap masyarakat yang setelah mendapatkan SMS dan selebaran lalu menyebarluaskannya. “Kalau dapat selebaran bagusnya dirobek dan dibakar saja. Jangan dikopi dan disebarkan,” kata Kapolres Sugioarto. Dia bahkan menduga, isu dan teror itu disebarkan oleh orang dari dalam. Kepada masyarakat diharapkan untuk tidak terprovokasi. Menurutnya, masyarakat sekarang ini sudah pintar dan tidak mudah terpengaruh.


Terkait rencana digelarnya sidang kasus dugaan penyimpangan keuangan daerah yang melibatkan tiga tersangka masing-masing Paulinus Domi, Iskandar Mberu dan Samuel Matutina di Ende, kapolres menyatakan siap melakukan pengamanan. Hal itu sudah dia bicarakan dengan Kepala Kejaksaan Tinggi di Kupang. Kajati, katanya, meminta pendapat soal pelaksanaan sidang di Ende setelah mendapatkan masukan dari DPR dan bupati. Namun, kata Sugiarto, menyangkut keamanan polisi lebih tahu dan kepada Kajati di Kupang, nyatakan bahwa siituasi Ende kondusif. Masyarakat Ende hanya trauma dengan kejadian pada tahun 1998. “Itu boleh pendapat masyarakat dan silahkan di Kupang. Tetapi kalau di Ende silahkan saja,” katanya.




2009, BRI Capai Target Penghimpunan Dana dan Penyaluran Kredit

* Pengembalian Kredit Tergolong Lancar

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Selama tahun 2009, PT BRI Cabang Ende mampi mencapai target baik dari sisi penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito dan lainnya serta mampu mencapai target pembiayaan kredit kepada masyarakat. Total dana yang mampu dihimpun dari masyarakat pada tahun 2009 mencapai Rp260 miliar lebih sedangkan pembiayaan kredit atau total kredit yang mampu disalurkan BRI sebesar Rp210 miliar. Kondisi ini menunjukan adanya pertumbuhan senilai 30 persen dari total penghimpunan dana masyarakat dan pembiayaan kredit pada tahun 2008.


Hal ini dikatakan Kepala Cabang BRI Cabang Ende, Tri Handono kepada Flores Pos beberapa waktu lalu di ruang kerjanya. Tri Handono mengatakan, dari jumlah dana yang terhimpun dibandingkan dengan pembiayaan kredit maka sudah mencapai 78 persen lebih. Kondisi ini menunjukan ada perkembangan bagus karena dana yang dihimpun mampu disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan melalui pembiayaan kredit.


Melihat perkembangan dan tren peningkatan jumlah dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat ini, kata Handono menunjukan bahwa minat masyarakat untuk menabung sangat besar dan sudah cukup bagus. Kondisi ini juga mampu mematahkan stigma NTT sebagai provinsi miskin. Diakui, untuk BRI cabang Ende, dana yang terhimpun dari masyarakat merupakan murni dana masyarakat bukan dana pemerintah. “Kita di BRI tidak ada dana pemerintah. Semuanya murni dari masyarakat,” kata Handono.


Sedangkan terkait dengan pembiayaan kredit, selama ini diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dan memenuhi syarat untuk diberikan kredit baik perorangan, pengusaha, PNS dan pensiunan. Dari total dana yang berhasil disalurkan kepada masyarakat melalui pembiayaan kredit sebesar Rp210 miliar, kata Handono pengembaliannya cukup baik. Tingkat pengembalian kredit dari masyarakat masih berada pada batas normal. Kredit bermasalah masih di bawah batas ambang sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Kondisi ini membuat tingkat kepercayaan bagi BRI untuk terus menyalurkan kredit kepada masyarakat.


Kredit bermasalah yang terjadi selama ini, kata Handono juga terjadi bukan karena kesengajaan dari kreditor. Kredit bermasalah atau kredit macet rata-rata terjadi karena kreditor meninggal dunia sehingga usahanya macet dan dana yang dipinjam tidak dapat dikembalikan. “Jadi secara umum kegemaran masyarakat untuk menabung dan kredit cukup bagus di Ende.”


Memasuki tahun 2010 ini, BRI Cabang Ende tetap optimis akan terjadi peningkatan baik dari sisi penghimpunan dana dari masyarakat maupun pemberian pinjaman melalui pembiayaan kredit. Ditargetkan, pencapaian penghimpunan dana masyarakat dan pembiayaan kredit pada tahun 2010 mengalami peningkatan hingga 30 persen dari tahun 2009.




Banjir Rendam Sejumlah Desa di Nagapanda dan Maukaro

* Satu Korban Meninggal Dunia

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Hujan deras yang mengguyur Kota Ende dan sekitarnya selama dua hari berturut-turut telah menimbulkan banjir di sejumlah desa di dua kecamatan yakni di Kecamatan Nangapanda dan Maukaro. Di Kecamatan Nangapanda, terdapat empat desa yang terendam banjir dan satu desa yang terancam banjir. Sedangkan di Maukaro terdapat tiga desa yakni Kebirangga, Kamubheka dan Mundinggasa dilanda banjir. Bajir yang terjadi di Kecamatan Nangapanda mengakibatkan Rosalia Diki (55) meninggal dunia akibat hanyut terbawa banjir. Sedangkan banjir di Maukaro tidak sampai menimbulkan korban jiwa.


Hal itu terungkap dalam laporan Wakil Bupati Ende, Achmad Mochdar yang ditujukan kepada gubernur NTT. Lima desa di Nangapanda yang dilanda banjir, masing-masing Desa Ondorea Barat yang diakibatkan karena meluapnya Sungai Nangamboa. Meluapnya sungai mengakibatkan lapangan sepakbola, kantor desa Ondorea Barat, kapela dan beberapa rumah penduduk terendam banjir.


Sementara di Desa Tendarea, banjir terjadi disebabkan oleh meluapnya kali mati Pu’u Pia. Baniir yang terjadi menghanyutkan Rosalia Diki (55) dan anaknya Anastasia Iro (20) sepanjang satu kilometer. Rosalia Diki ditemukan telah meninggal sedangkan anaknya Anastasia selamat dalam kejadian tersebut.

Masih di Nangapanda, banjir juga terjadi di Desa Ndeturea yang mengakiabtkan kantor desa terendam banjir. Di Desa Sanggaroro Dusun Pisombhopo, banjir juga mengakibatkan desa terendam banjir. Sedangkan di Desa Watumite Dusun Koporombo terancam banjir.


Di Wilayah Kecamatan Maukaro, tulis Wabub Mochdar dalam laporan tersebut, banjir terjadi di Desa Kebirangga Dusun Nua Niba dan mengakibatkan rumah milik La Mbaga hanyut. Rumah ini didiami dua kepala keluarga yang masing-masing memiliki dua orang anak yang masih kecil. Banjir di desa ini juga mengancam empat rumah lainnya yang berada di pinggir kali. Empat rumah tersebut masing-masing milik La Sambuda, Haji Mudin, Asri dan Samsudin. Banjir juga merendam badan jalan di depan Kantor Polsek Maukaro menuju SMP Negeri Maukaro setinggi satu meter. Sedangkan kantor camat Maukaro terendam banjir setinggi 75 centimeter.

Banjir juga terjadi di Desa Kamubheka dan mengakibatkan satu rumah penduduk terendam banjir dan dua tiang listrik hanyut. Banjir juga melanda Desa Mundinggasa. Namun banjir yang terjadi sejumlah desa di Kecamatan Maukaro tidak sampai menimbulkan korban jiwa.


Ketua DPRD Ende, Marselinus YW Petu usai mengikuti rapat koordinasi dengan pemerintah di kantor bupati, Selasa (9/2) kepada Flores Pos mengatakan prihatin dan turut berduka cita atas apa yang dialami masyarakat ini. Menyikapi banjir yang terjadi di Nangapanda dan Maukaro tersebut, DPRD Ende, pemerintah dan muspida telah menggelar rapat koordinasi guna mengambil langkah penanganan darurat. Penanganan tanggap darurat, kata Petu yakni dengan mendirikan posko bencana alam di dua kecamatan mengingat curah hujan ke depan masih di atas batas normal.

Selain mendirikan posko, lanjut Petu, langkah tanggap darurat juga dilakukan dengan memberikan bantuan makanan, minuman, pakaian dan bantuan tenda-tenda darurat. Pemberian bantuan pakaian dan tempat tinggal ini perlu dilakukan mengingat banjir yang terjadi telah menghanyutkan rumah dan pakaian milik masyarakat di dua kecamatan ini. Pemerintah dalam situasi tanggap darurat ini juga melakukan perbaikan sejumlah sarana dan prasarana yang rusak akibat banjir.


Petu mengatakan, bencana yang terjadi juga harus disikapi pemerintah melalui bupati dengan menyatakan bahwa bencana yang terjadi sebagai kondisi force major. Langkah itu perlu dilakukan dan perlu terkait dengan pengajuan dan alokasi anggaran untuk bantuan bencana alam sehingga memiliki dasar. Pernyataan force major ini juga penting dalam kaitan dengan pelaksanaan proyek fisik di lapangan. Dengan adanya force major ini maka tanggung jawab perbaikan tidak saja menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana mengingat kerusakan dan keterlambatan yang terjadi bukan karena kelalaian kontraktor atau kualitas pengerjaan yang kurang baik.


Terkait antisipasi bencana alam, Petu mengingatkan kepada masyarakat, aparat di setiap kecamatan dan desa untuk senantiasa waspada terhadap ancaman bencana yang akan terjadi. Kewaspadaan itu perlu mengingat sesuai ramalan, dalam waktu-waktu mendatang curah hujan masih di atas batas normal. Dia juga meminta kepada pihak kecamatan dan desa agar secepatnya melaporkan kejadian bencana yang terjadi di daerahnya masing-masing. “Itu perlu agar penanganannya dapat sesegera mungkin dilakukan,” kata Petu.


Sementara Heribertus Gani kepada Flores Pos mengharapkan kepada pemerintah melalui SKPD terkait untuk melakukan identifikasi kerusakan dan mendata kerugian yang terjadi akibat bencana alam banjir yang terjadi. Perlu pula dilakukan langkah-langkah antisipatif terhadap situasi tanggap darurat agar tidak menimbulkan persoalan ikutan seperti timbulnya penyakit. Setelah melakukan penanganan dalam mengatasi situasi tanggap darurat ini baru kemudian pemerintah merencanakan penanganan lebih lanjut seperti apa. “Misalnya kalau ada gagal tanam mungkin bisa diberikan bantuan bibit kepada petani. Atau kalau ada rumah warga yang rusak mungkin pemerintah bantu bahan bangunan agar bisa bangun kembali rumah warga yang rusak itu,” kata Gani.




99 Persen Warga Pulau Ende Sandarkan Hidup dari Melaut

* Bom Ikan Masih Marak

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Lebih kurang 99 persen masyarakat Kecamatan Pulau Ende yang adalah nelayan hingga saat ini masih menyandarkan hidupnya dari melaut. Kondisi ini selain disebabkan karena Pulau Ende yang sangat sedikit lahan pertaniannya juga disebabkan karena kebiasaan turun temurun masyarakat yang telah menyandarkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan dan hasil laut lainnya. Masyarakat Pulau Ende juga masih sangat terkenal dengan kebiasaan membom ikan. Namun demikian, mereka tidak melakukan pengeboman ikan di wilayah perairan Ende tetapi kebiasaan bom ikan ini selalu dilakukan di perairan luar baik di Flores Timur, Alor bahkan sampai ke Sumba.


Anggota DPRD Ende dari daerah pemilihan Ende II, Chairul Rasyid kepada Flores Pois di gedung DPRD Ende, Selasa (9/2) mengatakan, warga Pulau Ende selama ini memang mayoritas menyandarkan hidup dari melaut. Budaya melaut tersebut, kata dia tidak terlepas dari kebiasaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang yang juga adalah pelaut. Budaya bahari menurut Rasyid adalah budaya yang mengakar dalam diri warga Pulau Ende dan hal itu menampak dalam semangat kerja keras, terbuka, suka akan tantangan dan keberanian masyarakat dalam menghadapi setiap resiko sebagaimana mereka tahu bahwa berada di lautan lepas pada saat mencari ikan memang penuh dengan tantangan. “Kalau tidak pintar-pintar baca situasi nyawa bisa jadi korban,”


Omong soal budaya bahari, Rul Rasyid bilang budaya bahari masyarakat Ende umumnya dan Pulau Ende khususnya suatu waktu bisa saja hilang. Hal itu bisa saja terjadi kalau semangat bahari atau semangat masuk laut tidak terus-terusan digalakkan. Dia mengambil contoh, warga Pulau Ende yang nelayan dan mulai pindah tinggal di Ende lambat laun mulai meninggalkan pekerjaan nelayan dan beralih menjadi pegawai negeri atau wiraswasta dan meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan. Karena itu, kata Rasyid, jika semangat bahari tidak terus dikembangkan, bisa saja suatu saat, masyarakat Pulau Ende yang saat ini hampir 99 persen berprofesi sebagai nelayan bisa berangsur-angsur meninggalkan pekerjaan nelayan.


Mempertahankan budaya bahari, kata Rasyid harus didahului dengan mengarahkan seseorang lebih mencintai laut. Untuk bisa mencintai laut harus selalu mendekatkan diri dan mengenal lebih dekat laut itu sendiri. Langkah itu bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan kreatif seperti lomba renang, lomba dayung, lomba mancing bahkan lomba masakan khas hasil laut. Kegiatan-kegiatan seperti ini harus terus digalakan terutama kepada generasi muda dan anak sekolah. “saya yakin kalau semakin mereka mengenal dan mencintai laut, jelas budaya masuk laut dan budaya bahari yang sudah mengakar di masyarakat akan terus ditumbuhkembangkan,” kata Rasyid.


Ditanya terkait informasi dan pemberitaan yang menyebutkan kebiasaan bom ikan yang marak dilakukan warga Pulau Ende, Rasdyid mengatakan, hal itu memang tidak dapat dipungkiri. Di beberapa daerah di NTT sudah sering terjadi penangkapan pelaku bom ikan yang setelah diidentifikasi berasal dari Pulau Ende. “Tapi saya salut. Walau kebiasaan bom ikan itu buruk tapi mereka tidak bom di perairan Ende. Mereka selalu bom ikan di perairan luar,” katanya.


Diakui, kebiasaan bom ikan memang tidak pernah lepas dari warga Pulau Ende. Namun jika masyarakat Pulau Ende menginginkan agar budaya bahari itu tetap melekat maka mereka juga harus mulai perlahan-lahan melepaskan kebiasaan bom ikan. Penangkapan ikan dengan menggunakan alat pancing dan pukat akan lebih menguntungkan. Selain dapat melindungi biota laut yang ada di dalamnya sehingga menjamin hidupnya plankton yang menjadi sumber makanan bagi ikan, menghilangkan kebiasaan bom ikan juga dapat membantu anak cucu di kemudian hari. Betapa tidak, jika laut dihancurkan mulai sekarang, jelas anak cucu nanti tidak dapat melaut lagi karena jelas tidak dapat memberikan hasil tangkapan yang bagus dan menjamin kehidupan yang sejahtera bagi mereka. Namun jika saat ini mereka mampu menjaga laut dengan tidak membom ikan, jelas akan sangat membantu anak cucu mereka karena anak cucu mereka nantinya bisa menggantungkan hidup dari hasil laut karena lautnya terawat dengan baik.


Manaf, warga Pulau Ende kepada Flores Pos mengatakan, memang tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini warga Pulau Ende yang rata-rata nelayan sering menggunakan bom untuk menangkap ikan. Tapi menurut pengamatannya, intensitas pengeboman ikan di wilayah perairan Ende akhir-akhir ini menurun drastis. Hal itu berkat bantuan dari dinas teknis terkait yang memberikan bantuan alat tangkap kepada masyarakat nelayan. Dengan bantuan alat tangkap yang memadai warga mulai meninggalkan kebiasaan penggunaan bom untuk menangkap ikan. Ke depan, dia berharap pemerintah terus menggalakan gerakan masuk laut dan memberikan bantuan alat tangkap kepada para nelayan guna meminimalisir penggunaan bom.