06 Januari 2015

Perjuangan menuju Toilet KMP Inerie

Oleh Hiero Bokilia
 
MUDIK atau pulang kampung tidak hanya terjadi di kalangan warga Pulau Jawa saat merayakan hari raya Lebaran. Di kalangan warga Nusa Tenggara Timur saat-saat merayakan "Hari Bae" semisal Natal dan Tahun Baru atau hari raya Paskah, mudik pun sering dilakukan. Banyak warga NTT yang bermukim di ibu kota provinsi. Kupang menjadi pusat segalanya. Tidak saja sebagai pusat pemerintahan, tetapi Kupang juga menjadi pusat pendidikan. Warga di belahan Pulau Flores, Lembata, Alor, Sumba, Sabu, dan Rote berbondong-bondong menuntut ilmu di kota karang ini.

Sebagai pusat perekonomian, saat ini Kota Kupang bertumbuh demikian pesat. Pusat-pusat perbelanjaan terus dibangun, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencari kerja.

Dan sebagai pusat pemerintahan, banyak warga dari pulau-pulau di NTT juga bekerja di sejumlah lembaga pemerintahan dan swasta yang ada di Kota Kupang.

Maka, menjelang "Hari Bae" seperti ini, arus mudik tentu saja terjadi. Sejumlah moda transortasi udara dan laut ramai dimanfaatkan warga pemudik. Salah satu moda transportasi laut yang paling banyak disasar para pemudik adalah kapal motor penyeberangan (KMP) Ferry di bawah naugan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) dan PT Flobamor milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT. Moda transportasi ini menjadi pilihan utama karena selain berbiaya murah, ia juga dapat mengangkut kendaraan baik roda dua, roda empat, dan roda enam atau lebih. Selain itu, penumpang dapat membawa banyak barang tanpa dibebani biaya tambahan seperti yang diberlakukan moda transportasi udara. Di sini, feri menjadi alternatif pilihan utama warga pemudik.

Sebagaimana pantauan VN pada Kamis (18/12) lalu, warga pemudik asal Flores dan Sumba berjubel membeli tiket KMP Inerie 2 di Pelabuhan Penyeberangan Bolok, Kabupaten Kupang. Antrean panjang para calon penumpang tanpa mempedulikan teriknya sinar mentari pagi menjelang siang saat itu. Kapal yang dijadwalkan diberangkatkan pukul 11.00 Wita, molor sampai Pukul 12.00 Wita karena padatnya penumpang yang mengantre membeli tiket dan sulitnya pengaturan di atas kapal.

Setelah harus mengantre di tempat penjualan tiket, pemudik kembali harus mengantre dan berdesak-desakan saat hendak menaiki kapal. Ratusan kendaraan roda dua yang sudah padat berbaris rapi di dek satu KMP Inerie 2 semakin menyulitkan penumpang memasuki kapal. Padat benar arus mudik kali ini. Setelah sulit memasuki kapal, ternyata kesulitan baru datang menjelang. Tempat sulit didapatkan. Dek satu yang sudah disesaki ratusan kendaraan roda dua, dan puluhan kendaraan roda empat dan enam, membuat penumpang kesulitan mendapatkan ruang kosong sekadar untuk menggelar tikar.

Sutuasi yang sama juga ditemui di dek dua. Sejumlah tempat duduk dan tempat tidur yang tersedia di kelas ekonomi sudah penuh terisi. Lorong-lorong sepanjang jalan menuju kelas ekonomi di pintu masuk pun sudah disesaki penumpang. Seakan tak ada ruang kosong lagi untuk ditempati. Bahkan, di dek tiga pun situasinya tak jauh berbeda.

Pemudik kebanyakan tujuan Aimere, Ngada, Nagekeo, Manggarai, dan Sumba. Berjubel dan berlomba mendapatkan tempat. Muatan boleh dikatakan sudah melampaui kapasitas muat kapal.

Essy, mahasiswi Politani Kupang, pemudik asal Sumba Barat Daya mengaku memilih menumpang feri karena ongkosnya murah. Sebagai mahasiswa, tentu saja ia tak punya uang lebih untuk membeli tiket pesawat yang harganya selangit. Bersama dua rekannya Maya dan Fen mereka menggelar tikar di belakang mobil pick up. Satu tikar seukuran 1,2 x 0,5 meter mereka gelar untuk tidur bertiga. Separuh badan mereka harus rela langsung mengenai besi dek kapal. Tapi tidur mereka pulas. "Biar setengah mati, tapi yang penting bisa pulang rayakan Natal dengan keluarga," kata Essy diamini Maya.

Perjuangan tidak berhenti di situ. Ada satu perjuangan yang harus dilalui lagi. Ini yang boleh dikatakan cukup seru terutama bagi penumpang di dek satu. Perjuangan menuju toilet KMP Inerie 2 yang ada di dek dua. Perjalanan ke sana harus melewati jejeran sepeda motor yang hanya memberi ruang sempit yang begitu sulit untuk dilewati. Belum lagi di ruang-ruang dan celah sempit itu, sudah ada penumpang yang membentang tikar dan tidur di sana. Sudah susah lewati celat barisan motor, harus hati-hati agar tidak menginjak atau jatuh menimpa penumpang yang tidur di sela-sela barisan motor. "Permisi dan minta maaf tak henti-hentinya harus kita lontarkan. Untung sesama orang susah jadi saling mengerti," kata Fen, mahasiswa Politani asal SBD mengisahkan sulitnya menuju toilet kapal.

Itu baru di dek satu. Saat tiba di dek dua, dari pintu masuk saja sudah membuat gentar. Kalau tidak berani sebaiknya mundur. Tapi hasrat membuang yang lagi kebelet memaksa keberanian harus dimunculkan. Permisi dan minta maaf berulang kali diucapkan. "Silakan kaka, silakan om," jawaban para penumpang yang kebagian tempat di sepanjang lorong menuju toilet kapal.

Sampai di toilet, perjuangan menahan hasrat harus kembali terjadi. Sabar mengantre menunggu giliran hanya untuk kencing atau buang air besar. Panas dan bau pesing jadi teman setia di toilet pria. Tempat kencing berdiri bagi laki-laki yang disediakan empat buah tak bisa digunakan. Karton bertulisan "Rusak, tak bisa digunakan" dipampang pada empat tempat itu. Maka, penumpang harus sabar menunggu giliran pada empat toilet yang disediakan. "Kalau sudah rasa lebih baik langsung ke toilet. Jangan pake tahan lagi. Kalau tahan bisa-bisa kencing celana karena perjuangan panjang ke toilet dan harus antre tunggu giliran," kata Fen.

Air di toilet memang cukup untuk mandi dan kebutuhan di toilet. Hanya saja, panasnya tak ketulungan. Mandi air dan keringat. Selesai mandi sama dengan tidak mandi. Badan tetap berkeringat.

Perjuangan ternyata tak habis di situ. Saat kapal sandar pukul 08.00 Wita, Jumat (1912) di Pelabuhan Penyeberangan Aimere, Kabupaten Ngada, perjuangan kembali harus dilakukan. Untuk turun dari kapal, juga butuh perjuangan dan kesabaran. Budaya antre lagi-lagi harus berlaku. Yang di depan harus didahulukan, baru yang di belakang. Petugas kapal dan pelabuhan mengatur dengan baik, sehingga saat turun kali ini perjuangannya tak seberat saat naik. Perlahan-lahan kendaraan turun diikuti penumpang.

Itulah sekelumit cerita mudik menggunakan moda angkutan laut kita yang murah dan menjadi alternatif pilihan masyarakat. Namun, masih banyak yang perlu dibenahi. Muatan baik barang dan orang harus bisa dibatasi, agar menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Apalagi, menjelang hari raya keagamaan seperti ini. Mudah-mudahan, kondisi ini terus dibenahi dari hari ke hari, agar penumpang tidak lagi sulit dan berjuang menjual beli kata permisi dan maaf hanya untuk kencing dan buang air besar. Semoga.

Tidak ada komentar: