17 Februari 2010

Banjir Rendam Sejumlah Desa di Nagapanda dan Maukaro

* Satu Korban Meninggal Dunia

Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos

Hujan deras yang mengguyur Kota Ende dan sekitarnya selama dua hari berturut-turut telah menimbulkan banjir di sejumlah desa di dua kecamatan yakni di Kecamatan Nangapanda dan Maukaro. Di Kecamatan Nangapanda, terdapat empat desa yang terendam banjir dan satu desa yang terancam banjir. Sedangkan di Maukaro terdapat tiga desa yakni Kebirangga, Kamubheka dan Mundinggasa dilanda banjir. Bajir yang terjadi di Kecamatan Nangapanda mengakibatkan Rosalia Diki (55) meninggal dunia akibat hanyut terbawa banjir. Sedangkan banjir di Maukaro tidak sampai menimbulkan korban jiwa.


Hal itu terungkap dalam laporan Wakil Bupati Ende, Achmad Mochdar yang ditujukan kepada gubernur NTT. Lima desa di Nangapanda yang dilanda banjir, masing-masing Desa Ondorea Barat yang diakibatkan karena meluapnya Sungai Nangamboa. Meluapnya sungai mengakibatkan lapangan sepakbola, kantor desa Ondorea Barat, kapela dan beberapa rumah penduduk terendam banjir.


Sementara di Desa Tendarea, banjir terjadi disebabkan oleh meluapnya kali mati Pu’u Pia. Baniir yang terjadi menghanyutkan Rosalia Diki (55) dan anaknya Anastasia Iro (20) sepanjang satu kilometer. Rosalia Diki ditemukan telah meninggal sedangkan anaknya Anastasia selamat dalam kejadian tersebut.

Masih di Nangapanda, banjir juga terjadi di Desa Ndeturea yang mengakiabtkan kantor desa terendam banjir. Di Desa Sanggaroro Dusun Pisombhopo, banjir juga mengakibatkan desa terendam banjir. Sedangkan di Desa Watumite Dusun Koporombo terancam banjir.


Di Wilayah Kecamatan Maukaro, tulis Wabub Mochdar dalam laporan tersebut, banjir terjadi di Desa Kebirangga Dusun Nua Niba dan mengakibatkan rumah milik La Mbaga hanyut. Rumah ini didiami dua kepala keluarga yang masing-masing memiliki dua orang anak yang masih kecil. Banjir di desa ini juga mengancam empat rumah lainnya yang berada di pinggir kali. Empat rumah tersebut masing-masing milik La Sambuda, Haji Mudin, Asri dan Samsudin. Banjir juga merendam badan jalan di depan Kantor Polsek Maukaro menuju SMP Negeri Maukaro setinggi satu meter. Sedangkan kantor camat Maukaro terendam banjir setinggi 75 centimeter.

Banjir juga terjadi di Desa Kamubheka dan mengakibatkan satu rumah penduduk terendam banjir dan dua tiang listrik hanyut. Banjir juga melanda Desa Mundinggasa. Namun banjir yang terjadi sejumlah desa di Kecamatan Maukaro tidak sampai menimbulkan korban jiwa.


Ketua DPRD Ende, Marselinus YW Petu usai mengikuti rapat koordinasi dengan pemerintah di kantor bupati, Selasa (9/2) kepada Flores Pos mengatakan prihatin dan turut berduka cita atas apa yang dialami masyarakat ini. Menyikapi banjir yang terjadi di Nangapanda dan Maukaro tersebut, DPRD Ende, pemerintah dan muspida telah menggelar rapat koordinasi guna mengambil langkah penanganan darurat. Penanganan tanggap darurat, kata Petu yakni dengan mendirikan posko bencana alam di dua kecamatan mengingat curah hujan ke depan masih di atas batas normal.

Selain mendirikan posko, lanjut Petu, langkah tanggap darurat juga dilakukan dengan memberikan bantuan makanan, minuman, pakaian dan bantuan tenda-tenda darurat. Pemberian bantuan pakaian dan tempat tinggal ini perlu dilakukan mengingat banjir yang terjadi telah menghanyutkan rumah dan pakaian milik masyarakat di dua kecamatan ini. Pemerintah dalam situasi tanggap darurat ini juga melakukan perbaikan sejumlah sarana dan prasarana yang rusak akibat banjir.


Petu mengatakan, bencana yang terjadi juga harus disikapi pemerintah melalui bupati dengan menyatakan bahwa bencana yang terjadi sebagai kondisi force major. Langkah itu perlu dilakukan dan perlu terkait dengan pengajuan dan alokasi anggaran untuk bantuan bencana alam sehingga memiliki dasar. Pernyataan force major ini juga penting dalam kaitan dengan pelaksanaan proyek fisik di lapangan. Dengan adanya force major ini maka tanggung jawab perbaikan tidak saja menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana mengingat kerusakan dan keterlambatan yang terjadi bukan karena kelalaian kontraktor atau kualitas pengerjaan yang kurang baik.


Terkait antisipasi bencana alam, Petu mengingatkan kepada masyarakat, aparat di setiap kecamatan dan desa untuk senantiasa waspada terhadap ancaman bencana yang akan terjadi. Kewaspadaan itu perlu mengingat sesuai ramalan, dalam waktu-waktu mendatang curah hujan masih di atas batas normal. Dia juga meminta kepada pihak kecamatan dan desa agar secepatnya melaporkan kejadian bencana yang terjadi di daerahnya masing-masing. “Itu perlu agar penanganannya dapat sesegera mungkin dilakukan,” kata Petu.


Sementara Heribertus Gani kepada Flores Pos mengharapkan kepada pemerintah melalui SKPD terkait untuk melakukan identifikasi kerusakan dan mendata kerugian yang terjadi akibat bencana alam banjir yang terjadi. Perlu pula dilakukan langkah-langkah antisipatif terhadap situasi tanggap darurat agar tidak menimbulkan persoalan ikutan seperti timbulnya penyakit. Setelah melakukan penanganan dalam mengatasi situasi tanggap darurat ini baru kemudian pemerintah merencanakan penanganan lebih lanjut seperti apa. “Misalnya kalau ada gagal tanam mungkin bisa diberikan bantuan bibit kepada petani. Atau kalau ada rumah warga yang rusak mungkin pemerintah bantu bahan bangunan agar bisa bangun kembali rumah warga yang rusak itu,” kata Gani.




Tidak ada komentar: