28 April 2009

Veco dan Yayasan Tananua Ekspos Program

* Petani Mulai Berkembang Baik
Oleh Hieronimus Bokilia


Ende, Flores Pos
Yayasan Tananua Flores, LSM yang merupakan Cabang dari YTN memiliki mandat memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan lahir bathin bagi masyarakat tertinggal (laki-laki dan perempuan). Guna mencapai visi dan misi diatas YTN Cabang Flores yang dikenal dengan YTNF sejak tahun 1986 bekerja di Ende yang diawali di desa Roga dengan program kesehatan primer yakni air minum bersih. YTNF masih bekerja di Kabupaten Ende terutama dalam mendampingi masyarakat petani. Adapun jumlah petani yang didampingi sampai saat ini mencapai 3.684 petani (laki-laki 2.645 orang dan perempuan 1.039 orang) yang tergabung dalam 192 kelompok tani yang tersebar di 32 desa (dan 18 desa diantaranya telah phase out) di 10 kecamatan di kabupaten Ende. Program yang dikembangkan adalah Pertanian Berkelanjutan, Kesehatan Primer dan Ekonomi Kerakyatan. Salah satu mitra yang mendukung program ini adalah VECO Indonesia.

Hal itu dikatakan Bernadus Sambut, dari Yayasan Tananua Flores dalam pemaparan materinya pada kegiatan ekspos program di aula BPMD Ende, Senin (27/4). Dikatakan, untuk melakukan kerja sama dengan desa-desa dampingan diawali dengan permintaan masyarakat. Setelahnya dilanjutkan dengan survey tanggapan masyarakat, kondisi kehidupan masyarakat dan sumber daya. Kriteria dasar pemilihan desa adalah daerah hulu, kondisi lahan kritis, masyarakat sangat miskin, sumber pendapatan terbatas dan daya tanggap masyarakat bagus.

Strategi Kerja
Strategi kerja yang dilakukan penguatan sumber daya manusia, perencanaan bersama masyarakat/petani (kebun, kelompok dan desa), menggerakan swadaya masyarakat. Selain itu mulai dengan kemampuan/kapasitas lokal yang dimiliki, menjadikan masyarakat/tani sebagai mitra belajar yang setara. Penyuluhan dari petani ke petani, pendamping tinggal bersama masyarakat dan kerja sama multi pihak. Sejauh ini kendala yang dihadapi dalam pengembangan program, kata Sambut meliputi tumpang tindih program lapangan karena kurang kordinasi, bantuan karitatif berkepanjangan mematikan inisiatif lokal. Selain itu, program dari luar selalu dengan tekanan membentuk kelompok baru, sehingga menimbulkan pro kotra kelompok dalam desa, adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa kerja Yayasan Tananua adalah Karitatif dan Tananua dianggap provokator.

Dalam keberlanjutannya, Yayasan Tananua mendapatkan dukungan aktifitas dari World Neighbors, 1986-2000 (Budgeting), 2001-2008 (informasi dan kemitraan), CUSO Kanada (Volunter). Juga dari Ford Foundation 1998-2000 dan 2003-2005, WFP 1998 (Padat karya Pangan), FADO/VECO 1998-2008 (Pendampingan dan budgeting), 2009-2011(Pendampingan). Ada pula dari Misereor 1998-2000, 2005-2007, 2009-2011. VSO 2004-2011 (Volunter), Dinas Koperasi & PKM Kab. Ende (2005-2007).

Hubungan Tananua dengan para pendukung, hubungan kemitraan yang setara, kerja sama yang dibangun berdasarkan kesesuaian misi dan visi serta arah program. Adanya asistensi kelayakan pada tingkat oganisasi mitra dan program.

Banyak Peningkatan
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMD) Kabupaten Ende, Fransiscus Lasa pada kesempatan itu mengatakan, Yayasan Tananua telah berkiprah cukup lama di Kabupaten Ende. Dari refleksi yang dilakukan dalam 3 tahun kerja sama yang dibangun ditingkat kabupaten antara LSM Lokal (Yayayasan Tananua Flores) dengan BPMD Kabupaten Ende, mulai memberikan beberapa hasil yang perlu ditindaklanjuti. Keterlibatan BPMD dalam proyek ini baik dalam bentuk pengembangan sumberdaya manusia maupun dukungan pendanaan telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan masyarakat. Berpijak dari pengalaman tersebut maka perlu dilakukan program bersama tahun 2009.

Dalam pelaksanaan program-program ini, kata Lasa, tujuan program jangka panjang adalah meningkatkan ketahanan komunitas/kesejahteraan masyarakat desa di daerah hulu Kabupaten Ende (kehidupan sosial ekonomi, budaya, politik masyarakat baik laki-laki maupun perempuan) melalui pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. Indikatornya adalah sebanyak 75 % kebutuhan pokok masyarakat desa di daerah hulu Kabupaten Ende (terutama dampingan YTN-F) meningkat.

Sasaran Program, meningkatkan kapasitas masyarakat dampingan YTN-F (laki-laki dan perempuan) dalam memperjuangkan hak-haknya terutama kaum tani melalui program Pertanian Berkelanjutan, Institusi Ekora dan Kesehatan Primer dengan input luar rendah. Masyarakat dampingan YTN-F (laki-laki dan perempuan) menerapkan sistem pengelolaan usaha tani lahan kering secara berkelanjutan. Adanya rantai pemasaran komoditi kakao yang melibatkan 10 UB mandiri, 4 Pekdes (pengembangan ekonomi desa), 1 koperasi kebekolo yang berfungsi sebagai wadah ekonomi.

Selama program ini berjalan, kata Lasa, hasil-hasil program yang bisa langsung dilihat dalam jangka pendek satu tahun adalah petani dampingan mampu mengembangkan kebun dengan pola pertanian yang berkelanjutan. Ada desa yang memiliki Rencana Strategis (Renstra) desa yang di dalamnya termasuk program Pertanian Berkelanjutan (PB); Desa Kebesani, desa Kanganara, desa Mukusaki, desa Ondorea Barat. desa Tendarea dan desa Sokoria. Dikatakan, ada draf dan Rancangan Peraturan Desa (Perdes) tentang Pertanian Berkelanjutan di beberapa desa dampingan (desa Ndikosapu, desa Taniwoda). Selain itu, ada kesepakatan tentang pemasaran komoditi kakao yang dipasarkan bersama jaringan Pekdes/gapoktan secara intensif (Desa Nualise).

Tidak Mudah Potong Rantai Pemasaran
Suarja, Penanggung Jawab VECO Indonesia mengatakan, berbicara soal pemasaran komoditi hasil pertanian harus lebih realistis. Selama ini, petani hanya mengingingkan agar rantai pemasaran dipangkas. Namur petani akan tidak suka jira membicarakan soal pasar dengan standar-standarnya. Potong rantai pasar, katanya adalah suatau hal yang tidak mungkin karena yang terlibat dalam rantai pemasaran masih berkerabat dan kelaurga. Untuk itu, agar bisa mengatur rantai pemasaran, diperlukan adanya asosiasi. Dengan asosiasi dapat menghimpun semua yang selama ini terlibat dalam rantai pemasaran sehingga mereka tidak lagi menjadi pengumpul untuk pengusaha. Kepada mereka diberikan fee dan dengan demikian, komoditi terkumpul dalam jumlah banyak di suatu tempat dan dengan demikian masyarakat bisa bernegosiasi soal harga.



Tidak ada komentar: